Baiklah, jadi kini kita telah mengetahui perbedaan antara teori Marx dengan penerapannya di lapangan seperti yang dilakukan oleh Lenin dan Stalin. Dalam entry ini saya akan mencoba menunjukkan pelaksanaan Marxisme oleh Mao Zhedong dan Soekarno.
Maoisme
Partai Komunis Cina (PKC) diorganisasi pada tahun 1921 oleh para profesor di Universitas
Strategi Mao adalah membentuk tentara petani (konsep angkatan ke-5 PKI sangat mungkin diambil dari sini ?penulis) dan menjamin wilayah yang ?telah dibebaskan? di pedalaman Cina. Program PKC adalah program redistribusi tanah (di belahan dunia lain populer dengan sebutan landreform ?penulis), membatasi eksploitasi petani oleh tuan tanah dan rentenir, melembagakan pajak progresif dan program kesejahteraan, membangun pabrik-pabrik, dan memperkuat organisasi politik dan militer komunis.
Perang saudara dengan Kuomintang terus berlanjut, tapi agresi Jepang ke Cina setelah tahun 1935 adalah landasan utama untuk kemenangan akhir komunisme. Komunis terbukti lebih efektif daripada nasionalis dalam melawan pendudukan Jepang. Pada akhir Perang Dunia II komunis juga memperkuat Tentara Merah dan menyebabkan kaum nasionalis melarikan diri ke pulau
Keberhasilan komunis Cina ini juga tidak mengikuti skenario revolusi Marx dan Lenin.
Dan karena kapitalisme belum sempat menanamkan kukunya di Cina, peralihan bentuk sosial budaya dilakukan oleh PKC dan bukannya oleh kapitalisme. Menurut tesis Marx, kapitalisme akan membuat perubahan dalam bentuk sosial (melalui produksi besar-besaran) dan proletar hanya tinggal melanjutkan bentuk kemajuan yang telah dihasilkan oleh kapitalis tersebut.
Tahun 1958, demi bersaing dengan Uni Soviet guna mencapai sebuah komunisme murni, Mao mengkomuniskan pertanian dan menghapuskan segala bentuk kepemilikan pribadi, serta mengorganisir semua pekerja menjadi brigade produksi. Pekerjaan dalam komune dan pabrik-pabrik dilakukan secara bergiliran oleh mahasiwa, pekerja kantor, birokrat partai, dan lapisan istimewa lain dalam masyarakat Cina. Dalam proses itu, perbedaan status dan pangkat akan berangsur hilang, atau paling tidak berkurang. Bahkan dalam Tentara Merah secara resmi pangkat dihilangkan dari prajurit dan perwira di eselon bawah dan menengah.
Ternyata, kemudian terbukti tidak mungkin memodernisasi Cina tanpa menerima pola-pola tradisional wewenang dan ketidaksamaan status yang menandai hubungan elit-massa, direktur-manajer-pekerja, dll. Kegagalan upaya Mao itu bahkan terlihat sebelum meninggalnya Mao pada tahun 1976.
Marhaenisme
Pada suatu ketika, Soekarno sedang berjalan-jalan di sebuah sawah ketika dia bertemu dengan seorang petani yang sedang menggarap sawah. Percakapan dengan petani miskin yang bernama Marhaen itulah yang kemudian memunculkan konsep Marhaenisme dari Soekarno.
Marhaenisme adalah azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan negeri yang di dalam segala hal menyelamatkan kepentingan kaum Marhaen. Siapakah kaum Marhaen itu? Marhaen adalah proletarnya
Proletar menurut Marx adalah buruh, dan menurut Lenin adalah buruh dan petani. Soekarno memakai istilah Marhaen untuk merujuk pada buruh (proletar), petani melarat, kaum pedagang kecil, kaum ngarit, kaum tukang kaleng, kaum gerobag, kaum nelayan dan kaum lain-lain.
Soekarno mengakui bahwa kapitalisme di Eropa (tempat lahirnya Marxisme) berbeda dengan kapitalisme di
Meski begitu, Soekarno berpendapat bahwa memang kaum proletarlah yang mengambil peran paling besar dalam revolusi, karena adalah kelas hasil langsung dari kapitalisme, kelas yang kenal pabrik, mesin listrik dan produksi kapitalisme. Mereka juga lebih nyata pikirannya dibandingkan kaum tani yang umumnya pikirannya masih hidup dalam angan-angan mistik menanti ?Ratu Adil? jatuh dari langit dan mengubah nasib mereka.
Pentingnya kaum buruh tercermin dari kata-kata Bung Karno, ?Pergerakan Marhaen tidak akan menang jika tidak melibatkan buruh dan sekerja. Pergerakan politik Marhaen umum adalah perlu, partai pelopor Marhaen umum adalah perlu, sarekat tani adalah perlu, tapi sarekat buruh juga perlu, teramat perlu dan mahaperlu dengan tiada hingganya!?
Sekilas mengenai Maoisme dan Marhaenisme di atas (dan penjabaran sebelumnya tentang Leninisme dan Stalinisme) kiranya bisa memberikan gambaran bahwa Marxisme lebih sering dipraktikkan dengan penyesuaian-penyesuaian dengan kondisi nasional masing-masing daripada diterapkan secara murni sesuai kata-kata Marx. Dengan demikian, semoga bisa dimengerti bahwa ketakutan terhadap komunisme bisa diminimalisir jika kita mau menyesuaikannya dengan nilai-nilai yang ada di
Di entry berikutnya, saya akan mencoba memaparkan sebuah ideologi lain yang meskipun didasarkan pada teori Marx, tapi kemudian berkembang sedemikian rupa sehingga ideologi itu tidak bisa disamakan dengan komunisme, meskipun masih sama-sama berada di ranah kiri pemikiran politik. Ideologi yang saya maksud adalah sosialisme (sosialisme-demokrat).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar