Kamis, 10 September 2009

Negeri Busung Lapar, Tanah Air Beta.

Rintihan jutaan bayi dan anak busung lapar serta isak para orangtua yang memeluk anaknya yang mati kelaparan semakin sayup ditindih keramaian dan kebingaran partai-partai yang saling berebut ruang publik. Dalam kegempitaan pesta demokrasi, belum ada kumandang pernyataan bahwa kecukupan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia adalah proyek utama politik. Belum juga tampak kecerdasan dan kesigapan administrasi pemerintah bekerja dalam kerangka organisasi yang padu bergerak cepat mengatasi soal kelaparan.


.... keberadaan jutaan bayi dan anak-anak yang mati karena kelaparan bukanlah kutukan dari YME atau bencana alam yang tidak bisa dihindarkan atau diatasi. Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat atas kaidah-kaidah kesehatan memang mempunyai andil atas keberadaan kondisi gizi buruk . Akan tetapi, panggung kelaparan dan kematian akibat kelaparan adalah bangunan sistem sosial dan ekonomi yang tidak adil di Indonesia. Kelaparan tidak dapat diatasi oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) tanpa dilandasi oleh reformasi agraria dan penataan ulang sektor kelautan dan perikanan.

“Our duty is, I repeat, first of all, before anything else, to see to it that no one in Cuba goes without food.” (President of the National Bank, Cuba, 1960)

dipetik dari artikel Levidus Malau "KELAPARAN DI TANAH AIR INDONESIA", di Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi Edisi: 232 www.prakarsa-rakyat.org

KELAPARAN DI TANAH AIR INDONESIA
Oleh Lefidus Malau



“Our duty is, I repeat, first of all, before anything else, to see to it that no one in Cuba goes without food.” (President of the National Bank, Cuba, 1960)

Rintihan jutaan bayi dan anak busung lapar serta isak para orangtua yang memeluk anaknya yang mati kelaparan semakin sayup ditindih keramaian dan kebingaran partai-partai yang saling berebut ruang publik. Dalam kegempitaan pesta demokrasi, belum ada kumandang pernyataan bahwa kecukupan pangan bagi seluruh rakyat Indonesia adalah proyek utama politik. Belum juga tampak kecerdasan dan kesigapan administrasi pemerintah bekerja dalam kerangka organisasi yang padu bergerak cepat mengatasi soal kelaparan.

Ada postulasi yang menyatakan bahwa keberadaan (jutaan) orang lapar, apalagi bayi dan anak-anak, merupakan pengujian utama terhadap adil dan efektifnya sistem sosial dan ekonomi di sebuah negara. Demikian mendasar fungsinya, sehingga sistem pangan nasional dapat dipakai sebagai jendela untuk memahami sebuah masyarakat. Melalui berbagai kejadian busung lapar dan kematian akibat kelaparan, tulisan ini ingin memeriksa keadilan dan keefektifan kebijakan dan strategi pangan pangan nasional di Indonesia.

Tentang Kecukupan Pangan

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang menjadi dasar berdirinya Republik Indonesia menyatakan, antara lain, bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 27, Ayat 2); bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 33, Ayat 3); bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara (Pasal 34). Selanjutnya, Undang-Undang No. 7 tahun 1996 tentang Pangan menyatakan: (a) bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional; (b) bahwa pangan yang aman, bermutu, bergizi, beragam, dan tersedia secara cukup merupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi dalam upaya terselenggaranya suatu sistem pangan yang memberikan perlindungan bagi kepentingan kesehatan serta makin berperan dalam meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Dengan jelas dan tegas, pasal-pasal UUD 1945 dan UU Pangan memberikan jaminan pada setiap rakyat Indonesia hak atas kecukupan pangan. Soal selanjutnya adalah seperti apa yang disebut kecukupan pangan dan bagaimana negara menjaminnya?

Pangan à la Indonesia

Seperti apa gerangan bentuk pangan yang bermutu dan bergizi à la Indonesia? Prof Poerwo Soedarmo pada tahun 1950 menciptakan slogan "Empat Sehat Lima Sempurna," yaitu: (1) makanan pokok, (2) lauk-pauk, (3) sayur-sayuran, (4) buah-buahan, dan (5) susu. Dalam berbagai kampanye kesehatan, kita dapat melihat logo berbentuk lingkaran yang menempatkan kelompok makanan 1 sampai dengan 4 di sisi dalam lingkaran mengelilingi kelompok ke-5, yaitu susu, di bagian tengah.

Selanjutnya, Direktorat Bina Gizi Masyarakat dari Departemen Kesehatan menyusun Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) pada tahun 2002. Disebutkan PUGS dibuat sesuai dengan hasil Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi tahun 1998. Selanjutnya, dibuat satu logo PUGS yang berbentuk kerucut atau “tumpeng” yang terdiri dari empat tingkat. Secara berturut-turut: tingkat dasar menggambarkan kelompok makanan sumber zat tenaga atau enerji, yaitu padi-padian, umbi-umbian, dan tepung-tepungan; tingkat kedua berisi kelompok makanan sumber zat pengatur, yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan; tingkat ketiga berisi kelompok makanan sumber zat pembangun, yaitu makanan hewani (termasuk susu) dan nabati; dan tingkat paling atas berisi minyak dan lemak.

Pada tahun 2005, Menteri Kesehatan mengeluarkan tabel Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk rakyat Indonesia. Tabel itu mencantumkan unsur-unsur dalam satuan jumlah yang ideal untuk dikonsumsi rakyat Indonesia per hari: Enerji, Protein, Vit A, Vit D, Vit E, Vit K, Thiamin, Riboflavin, Niacin, Asam Folat, Piridoksin, Vit B12, Vit C, Kalsium, Fosfor, Magnesium, Besi, Yodium, Seng, Selenium dan Mangan. Walaupun nama unsur-unsur dan angka dalam tabel tersebut tidak banyak artinya bagi awam, namun keputusan tersebut menunjukkan bahwa otoritas kesehatan di negara ini mengakui bahwa kecukupan pangan bukanlah sekedar terisinya perut rakyat dengan “sesuatu.” Ada kandungan komposisi unsur-unsur tertentu dan dalam satuan jumlah tertentu untuk dapat menyatakan bahwa “sesuatu” dapat disebut sebagai pangan yang bermutu dan bergizi.

Untuk sekarang ini, rumusan PUGS memberi pegangan tentang apa saja yang harus diperhatikan ketika membahas Kebijakan Pangan Nasional. Selanjutnya, bagaimana negara menjamin kecukupan pangan sesuai norma-norma kesehatan yang diadopsinya?

Strategi dan Kebijakan Pangan Nasional

Berdasarkan PUGS, sumber zat tenaga atau enerji adalah berbagai jenis tanaman dalam kelompok padi-padian, umbi-umbian dan tepung-tepungan. Akan tetapi, ketika ada pernyataan internasional tentang kerawanan pangan yang hebat di seluruh dunia pada tahun 1960-1970, pemerintah Indonesia mencanangkan program swasembada beras pada tahun 1980-an. Ketika pulau Jawa tidak mampu menyangga beban produksi pangan akibat industrialisasi pada tahun 1990-an, lahir kebijakan pembukaan sawah sejuta hektar di Kalimantan. Setelah tahun 1990-an, ketika masyarakat miskin dianggap tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan, muncul program raskin (beras untuk rakyat miskin). Tiga contoh kebijakan nasional di atas menunjukkan bahwa pemerintah menterjemahkan pangan = beras. Berdasarkan persamaan tersebut maka rawan pangan = rawan beras. Logika dari persamaan itu menjelaskan mengapa seluruh potensi, strategi dan regulasi kebijakan pangan nasional diarahkan untuk meningkatkan produksi beras dan/atau impor beras.

Bagaimana perhatian pemerintah terhadap tingkat kedua tumpeng PUGS yang berisi kelompok makanan sumber zat pengatur, yaitu sayur-sayuran dan buah-buahan. Survei Pemantauan Status Gizi dan Kesehatan oleh Helen Keller Foundation selama 1998-2002 menunjukkan kenyataan tentang 10 juta anak balita -- setengah dari populasi anak balita di Indonesia pada masa itu -- menanggung resiko kekurangan Vitamin A. Disebutkan, makanan sehari-hari anak-anak tersebut berada di bawah angka kecukupan Vitamin A yang ditetapkan untuk anak balita, yaitu 350-460 Retino Ekivalen per hari. Tragedi ini tidak akan menimpa jutaan balita di Indonesia bila sayuran daun hijau menjadi bagian makanan sehari-hari. Sebagai ilustrasi, sehelai daun singkong mengandung cukup beta karoten untuk keperluan seorang anak per hari. Tragedi. Di negara dengan wilayah membentang sepanjang garis khatulistiwa dengan iklim yang cocok untuk menanam segala jenis sayuran hijau dan buah-buahan tropis sepanjang tahun, ada 10 juta bayi menanggung resiko kekurangan Vitamin A.

Ironis. Dalam pembicaraan tentang Ketahanan Pangan Nasional, puluhan ribu desa tidak memiliki akses lahan. Berdasarkan data BPS Departemen Kehutanan, sebanyak 16.760 Desa dari 24.572 Desa di Indonesia berada di dalam dan tepian kawasan hutan di 15 provinsi (BPS, 2007). Secara kenegaraan, komunitas yang tinggal di dalam dan tepian kawasan hutan tersebut diakui sebagai desa, tetapi dilarang membuka hutan. Sementara pemerintah daerah di era otonomi lebih tertarik memberikan izin konversi kawasan hutan untuk mengembangkan tanaman cokelat, kopi, kacang mede, rami, karet dan kelapa sawit.di tanah yang mestinya ditumbuhi tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Selanjutnya tentang kecukupan kelompok makanan sumber zat pembangun (protein). Sejak awal, pembicaraan mengenai pangan masih bertumpu pada sumber daya alam di daratan. Padahal, sebagai negara dengan potensi garis pantai sepanjang 81.000 km dengan ekosistem perairan laut semi tertutup (semi-closed waters) yang cukup banyak dan kekayaan sumber daya hayati laut terbesar kedua di dunia, sumber daya ikan (fin fish dan shell fish) dan budidaya kelautan (marikultur) seharusnya dapat menjadi salah satu tumpuan penyedia pangan nasional. Pada tahun 2003, FAO mencatat total produksi ikan Indonesia mencapai 5,92 juta ton dan produksi perikanan budidaya sampai tahun 2005 mencapai 1.295.300 ton. Dengan garis pantai sepanjang itu, luas potensial perairan laut untuk marikultur bisa mencapai 24 juta hektar. Dengan produktivitas 2 ton per ha per tahun, produksi potensial marikultur laut bisa mencapai 48 juta ton per tahun. Dengan potensi sebesar ini, kecukupan protein bagi penduduk Indonesia per hari per kapita sebesar 52 gram pada tingkat konsumsi dan 57 gram pada tingkat penyediaan seharusnya bisa dipenuhi. Akan tetapi, walaupun Undang-undang No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan telah diganti dengan Undang-undang No. 31 tahun 2004, ketersediaan ikan sebagai sumber protein nabati tetap saja masih belum dapat dipehuni. Ironisnya, salah satu kelompok penduduk miskin yang rentan rawan pangan adalah para nelayan.

Penutup

Ringkas kata, keberadaan jutaan bayi dan anak-anak yang mati karena kelaparan bukanlah kutukan dari YME atau bencana alam yang tidak bisa dihindarkan atau diatasi. Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat atas kaidah-kaidah kesehatan memang mempunyai andil atas keberadaan kondisi gizi buruk . Akan tetapi, panggung kelaparan dan kematian akibat kelaparan adalah bangunan sistem sosial dan ekonomi yang tidak adil di Indonesia. Kelaparan tidak dapat diatasi oleh Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM Mandiri) tanpa dilandasi oleh reformasi agraria dan penataan ulang sektor kelautan dan perikanan.


* Penulis adalah Sekjen REBUNG, organisasi rakyat yang bergerak di bidang pengembangan ekonomi berbasis lingkungan di Depok, Jawa Barat. E-mail: lefidus@yahoo.com atau lefidus@gmail.com. Anggota Forum Belajar Bersama Prakarsa Rakyat dari Simpul Jabodetabek.

** Siapa saja dipersilahkan mengutip, menggandakan, menyebarluaskan sebagian atau seluruh materi yang termuat dalam portal ini selama untuk kajian dan mendukung gerakan rakyat. Untuk keperluan komersial pengguna harus mendapatkan ijin tertulis dari pengelola portal Prakarsa Rakyat. Setiap pengutipan, penggandaan dan penyebarluasan sebagian atau seluruh materi harus mencantumkan sumber (portal Prakarsa Rakyat atau www.prakarsa-rakyat.org).

Neoliberalisme : Penanda Kemenangan Gagasan atau Kemenangan Kelas?

Oleh : Coen Husain Pontoh

...... berbeda dengan Arianto yang melihat kemenangan neoliberalisme, sebagai refleksi dari kemenangan satu gagasan terhadap gagasan lainnya, saya justru melihat neoliberalisme merupakan penanda kemenangan kelas kapitalis atas kelas buruh. Ketimbang menempatkan intelektual sebagai agen perubahan sosial, justru inilah saat dimana peran historis kelas pekerja, sebagai satu-satunya kelas yang potensial menjadi revolusioner sangat relevan.


ARTIKEL Arianto Sangaji, bertajuk Neoliberalisme (klik disini), sangat menarik untuk didiskusikan lebih lanujut. Artikel ini secara utuh membahas neoliberalisme, mulai dari makna teknikalnya hingga relasi ekonomi politiknya.

Setelah membahas definisi neoliberalisme, penulis kemudian melangkah pada penjelasan bahwa neoliberalisme, sebagai proyek politik dari para pengusung pasar bebas, yang bernaung di bahwa payung “the Mont Pelerin Society,” ternyata mengandung sejumlah mitos. Arianto, misalnya, mengatakan, posisi negara yang oleh para pendukung neoliberal dikatakan semakin lemah di hadapan pasar, ternyata hanyalah mitos. Meminjam tesisnya Karl Polanyi dan David Harvey, dan kemudian diperkuat dengan studi kasus penerapan neoliberalisme di Indonesia, penulis menunjukkan tanpa peran aktif negara neoliberalisme tidak akan pernah menyebar dari menjadi ideologi dominan di seluruh dunia saat ini. “Kekuasaan negaralah yang menjadi kata kunci untuk mengartikulasikan paham ini,” demikian pungkas Arianto.

Lalu, apa yang perlu ditanggapi dari artikel yang sangat menarik dan penting ini? Tanggapan saya terhadap artikel ini, bukan pada definisi, atau pada pembuktian empiris yang dikemukakan Arianto untuk memperkuat tesis-tesisnya. Tanggapan saya, lebih pada perspektif yang digunakan Arianto dalam menulis artikel ini. Dari sana saya ingin memberikan perspektif yang berbeda dalam membaca Neoliberalisme.

Apa perspektif pemikiran Arianto Sangaji? Kalau kita periksa lebih teliti artikelnya, maka alur logikanya adalah:
  1. ada sebuah proyek politik dari sekelompok intelektual pro-pasar bebas, yang merasa terancam dengan dominasi pemikiran mereka yang anti pasar bebas (Keynesianisme, developmentalisme, populisme, komunisme, dan sosial-demokrasi). Para ilmuwan ini kemudian melakukan gerilya intelektual dan politik: dari penerbitan buku, artikel, serangkaian konferensi, hingga menjadi penasehat sebuah rejim yang dianggap pro pasar bebas;
  2. dalam proses itu, terjadi momentum politik ekonomi, yakni krisis ekonomi di tahun 1970an, yang memungkinkan ide-ide pro pasar ini diadopsi oleh rejim berkuasa: sebutlah rejim Tatcher di Inggris dan Ronald Reagan di Amerika:
  3. ketika ide ini diadopsi oleh negara, maka penerapan dan penyebarannya menjadi lebih mudah, karena negara tampil ke depan untuk mengawal penerapan kebijakan ini.

Dari alur logika ini, maka yang tampak bahwa “ide menentukan realitas.” Tetapi, ide ini agar bisa menjadi dominan dan kemudian diimplementasikan dalam sebuah kebijakan negara, ia harus diperjuangkan. Dan para pejuang itu adalah intelektual-intelektual yang tergabung dalam “the Mont Pelerint Society,” dengan Hayek dan Friedman sebagai gurunya. Di sini, Arianto menempatkan kalangan intelektual sebagai agen perubahan sosial, dalam hal ini perubahan sosial dari sistem ekonomi yang anti pasar bebas menjadi sistem ekonomi yang pro pasar bebas.

Perjuangan Kelas

Saya tidak memiliki keberatan dengan definisi Arianto soal neoliberalisme. Tidak juga pembuktiannya bahwa propaganda mengenai posisi negara yang melemah di hadapan mekanisme pasar hanyalah mitos.

Tetapi, untuk memahami esensi neoliberalisme, kita harus melangkah lebih jauh dari sekadar mengutak-atik serangkaian kebijakan yang bersifat teknis-ekonomis. Ekonom William K. Tabb, mengatakan, neoliberalisme atau globalisasi pada dasarnya adalah sebuah hubungan kekuasaan relatif, sehingga jauh dari sekadar masalah teknikal, globalisasi lebih dalam lagi adalah sebuah proses politik. Dalam bahasa yang lebih tegas, Peter Rachleff, mengatakan, neoliberalisme harus dipahami sebagai sebuah strategi untuk merestorasi kekuasaan kelas elite baik di tingkat nasional maupun global. Ekonom Gérard Duménil dan Dominique Lévy, setelah melalui rekonstruksi data secara hati-hati, juga tiba pada kesimpulan yang sama dengan Rachleff.

Dengan kata lain, serangkaian kebijakan neoliberal yang disebutkan Arianto, harus dilihat sebagai manifestasi dari kemenangan kelas kapitalis atas kelas pekerja dalam sebuah perang kelas yang panjang dan berdarah. Maka memahami perjuangan kelas, merupakan jalan terbaik untuk mengerti esensi neoliberalisme, agar tidak semata melihat neoliberalisme sebagai murni pertarungan gagasan antara yang setuju intervensi negara dan anti-intervensi negara.

Untuk itu, saya ingin mengambil kasus hubungan buruh-kapital di Amerika. Begini ceritanya: ketika terjadi Depresi Ekonomi 1929-1939, gerakan buruh Amerika bukannya menjadi lemah, tapi sebaliknya, muncul menjadi kekuatan baru yang sangat diperhitungkan oleh pemerintahan presiden Franklin D. Rosevelt.

Selama ini kita disuguhi cerita bahwa Kebijakan "New Deal" yang sukses mengatasi depresi ekonomi, merupakan karya jenius seorang Rosevelt, lebih khusus lagi, menteri perdagangan kala itu, Herbert Hoover. Tetapi, dari studi yang dilakukan Salant menunjukkan, ternyata Rosevelt dalam periode pertama pemerintahannya sama sekali tidak berkeinginan untuk menerapkan kebijakan Keynesianisme, bahkan dalam pengertiannya yang paling sempit. Sebaliknya, ia mengumumkan kebijakan defisit anggaran, mempromosikan kebijakan anggaran berimbang, dan selanjutnya, menerapkan kebijakan pemotongan belanja pemerintah. Hal yang menyebabkan Rosevelt enggan menerapkan kebijakan Keynesianisme, karena kuatnya oposisi dari kalangan kelompok-kelompok bisnis, termasuk Chamber of Commerce dan the National Association of Manufactures – yang bergabung bersama kekuatan yang sangat kuat dari organisasi industri pertanian, seperti Farm Bureau.

Rosevelt baru menerapkan kebijakan Keynesian atau New Deal diparuh kedua masa pemerintahannya. Kompromi Rosevelt ini, dilakukakan setelah melihat kenyataan betapa gelombang pemogokan buruh melanda seluruh negeri. Goldfield mencatat, perlawanan gerakan buruh terhadap majikan dan juga negara dalam bentuk demonstrasi dan pemogokan terjadi dalam jumlah ratusan bahkan ribuan. Pada masa itu pula, kelas pekerja yang berlawan tidak hanya yang tergabung dalam serikat buruh, tapi juga jutaan buruh yang tidak termasuk dalam organisasi serikat buruh. Bersama-sama dengan gerakan sosial lainnya, mereka sukses meminggirkan politisi-politisi konservatif dan mengirim karier politisi-politisi yang menyanyikan retorika probisnis ke gerbang kekalahan.

Tetapi, setelah terbebas dari depresi ekonomi, perekonomian Amerika pasca Perang Dunia II, mengalami masa keemasannya, yang disebut “The Golden Age Capitalism.” Pertumbuhan ekonomi yang dikelola dengan manajemen Keynesianisme itu, bukan hanya mendatangkan keuntungan bagi kelas kapitalis, berkah itu juga turut dinikmati oleh kelas buruh. Ekonom Rick Wolf mengatakan, pada masa ini, kelas buruh Amerika menikmati pertumbuhan konsumsi yang tertinggi dalam waktu 150 tahun. Ukuran keberhasilan kelas buruh lantas diukur berdasarkan gaya hidup, misalnya, berapa banyak mobil yang dimiliki dan berapa sering berwisata ke luar negeri. Maka dari sisi kelas buruh, masa-masa itu disebut juga sebagai “The Golden Age of American Working Class.”

Pada masa keemasannya ini, gerakan buruh Amerika lalu memutar haluan politiknya, dari politik radikal yang mengusung tuntutan-tuntutan independen kelas pekerja di hadapan kelas borjuasi dan negara di masa Depresi Ekonomi, menjadi politik kolaborasi kelas. Argumennya, karena pertumbuhan ekonomi tinggi telah mendatangkan keuntungan bagi kelas kapitalis dan kelas pekerja sekaligus, lalu apa relevansinya bagi kelas pekerja untuk terus memajukan tuntutan-tuntutan kelasnya? Jika borjuasi terus diganggu dengan aksi-aksi demonstrasi dan pemogokan yang menuntut perbaikan tingkat kesejahteraan dan kondisi kerja, maka kinerja ekonomi akan memburuk dan konsekuensinya juga buruk bagi kehidupan kelas pekerja. Ideologi Gomperisme, “agar serikat buruh tidak ikut-ikutan berpolitik,” lalu menjadi dominan. Bahkan, lebih dari itu, serikat buruh terbesar Amerika, AFL-CIO, bukannya mengurus kepentingan anggotanya, malah bersekutu dengan borjuasi; bukannya mempromosikan solidaritas buruh internasional, AFL-CIO malah mendukung kebijakan imperialis Amerika dalam kerangka Perang Dingin dan membantu rejim-rejim militer di negara-negara berkembang dalam menundukkan serikat buruh radikal.

Dalam masa keemasannya ini, kapitalisme Amerika menjadi satu-satunya hegemon di hadapan pesaing-pesaingnya di Eropa dan Jepang. Tetapi, ketika kondisi ekonomi pasca perang di Jepang dan Jerman mulai membaik, kelas kapitalis di kedua negara ini muncul menjadi pesaing-pesaing baru kapitalis Amerika. Kompetisi di kalangan kapitalis, menyebabkan upaya-upaya untuk meraih keuntungan sebesar-besanya makin tak terelakkan: efisiensi produksi, kebutuhan akan inovasi-inovasi baru di bidang teknologi, serta keharusan untuk ekspansi kapital seluas-luasnya. Namun, kebutuhan-kebutuhan baru ini harus berhadapan dengan kebijakan Keynesianisme yang saat itu masih dominan.

Akibatnya, terjadi krisis keuntungan yang kemudian memicu krisis ekonomi lebih jauh. Pada momen inilah, doktrin pasar bebas, yang sebelumnya hanya dominan di beberapa kampus tertentu di Amerika, khususnya di Departemen Ekonomi Universitas Chicago, menemukan momentumnya. Dan resmi diadopsi sebagai kebijakan negara, pertama-tama oleh pemerintahan Jimmy Carter dan lebih jauh lagi oleh Ronald Reagan.

Pada saat yang sama, kelas buruh Amerika yang memraktekkan kebijakan kolaborasi kelas, tidak lagi memiliki pengaruh politik yang signifikan. Jumlah buruh yang menjadi anggota serikat buruh pun terus menurun. Pada tahun 1962, sebagai misal, persentasi jumlah tenaga kerja terorganisir berada di bawah angka 30 persen dan pada 1984 menurun lagi menjadi 20 persen. Angka ini menempatkan gerakan buruh Amerika tidak hanya lemah dibandingkan dengan negara-negara maju lainnya, tapi juga merupakan satu-satunya negara dimana jumlah persentase tenaga kerja terorganisir terus menurun dalam 50 tahun terakhir.

Dalam kondisi gerakan kelas pekerja yang lemah ini, proyek-proyek neoliberal berjalan di jalur bebas hambatan. Dan ketika serikat buruh mencoba melawan kebijakan Reaganomics, sang koboi melakukan serangan balik yang sangat mematikan. Aksi pertama Reagan, yang kemudian menjadi penanda kebangkrutan gerakan buruh AS, ketika ia memecat 11.345 buruh PATCO (Professional Air Traffic Controllers Organization) yang terlibat dalam demonstrasi pada 3 Agustus 1981. Hanya 500 anggota PATCO yang diterima kembali (rehired) untuk bekerja. Pemecatan besar-besaran itu terjadi karena para buruh menolak ultimatum Reagan agar dalam 1 kali 48 jam, buruh harus membubarkan aksinya dan kembali ke tempat kerja. PATCO sendiri kemudian dibubarkan. Ironisnya, tidak ada solidaritas buruh yang kuat dalam membela dan mendukung aksi yang dilakukan PATCO.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas, maka berbeda dengan Arianto yang melihat kemenangan neoliberalisme, sebagai refleksi dari kemenangan satu gagasan terhadap gagasan lainnya, saya justru melihat neoliberalisme merupakan penanda kemenangan kelas kapitalis atas kelas buruh. Ketimbang menempatkan intelektual sebagai agen perubahan sosial, justru inilah saat dimana peran historis kelas pekerja, sebagai satu-satunya kelas yang potensial menjadi revolusioner sangat relevan.

Konsekuensinya, untuk mengalahkan neoliberalisme, kelas pekerja harus membangun kembali organisasinya, mengajukan tuntutan-tuntutan independen kelasnya, dan kembali mengedepankan politik radikal berbasis kelas. Argumennya, masalah kesejahteraan dan keselamatan kerja buruh pada dasarnya adalah masalah kekuasaan. Semakin buruh memiliki kekuasaan, semakin mereka mampu meningkatkan tingkat upahnya, memperbaiki kondisi kerjanya, dan melindungi capaian-capain tersebut, demikian sebaliknya. Selama ini perjuangan kelas pekerja terperangkap pada tuntutan-tuntutan tradisionalnya dan melupakan perjuangan politik untuk merebut kekuasaan negara. Serikat buruh cukup puas jika tuntutan ekonominya telah dipenuhi oleh majikan, dan jaminan sosial mereka diundangkan oleh negara.

Selain itu, minimnya radikalisasi politik kelas pekerja melalui aksi langsung dan mobilisasi langsung menyebabkan:
  1. tekanan politik terhadap kapital sangat lemah;
  2. solidaritas gerakan menjadi rendah karena tidak ada lagi pengalaman bersama dalam memperjuangkan tuntutan-tuntutannya;
  3. gerakan buruh lantas makin terpolarisasi pada isu-isu berbasis ras, gender, tempat kerja, dan pekerja migran.

Coen Husain Pontoh, mahasiswa ilmu politik di City University of New York, Amerika Serikat.

PERNYATAAN SIKAP PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA

Hampir seluruh rakyat Indonesia saat ini telah menggunakan tenaga listrik untuk kebutuhan rumah tangganya. Untuk rakyat Indonesia di Jawa-Bali saja, penggunaan listrik bagi kebutuhan rumah tangganya telah mencapai 90%. Sedangkan untuk wilayah luar Jawa, walaupun belum semua menggunakan jasa listrik untuk kebutuhan rumah tangganya, namun dapat dipastikan bahwa sebagian besar rakyat di luar Jawa juga membutuhkan listrik untuk membantu produktivitas rumah tangga dan industrinya. Untuk itu, listrik dapat dianggap sebagai sebuah kebutuhan yang mungkin tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyrakat untuk
menjalani kehidupannya.

Oleh karena itu, bidang kelistrikan kemudian juga menjadi incaran para pemilik modal untuk mendapatkan keuntungan. Dengan asumsi sekitar 90% masyarakat di Jawa dan Bali menggunakan listrik untuk membantu produktivitas rumah tangganya, maka ini bisa menjadi lahan bisnis baru bagi para pemilik modal.

Untuk melancarkan swastanisasi/ privatisasi bidang kelistrikan kemudian pemerintah kapitalis pada tahun 2002 memberlakukan UU No 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan. Inti dari UU No 20 Tahun 2002 tersebut adalah mengupayakan swastanisasi/ privatisasi kelistrikan di
Jawa-Bali dapat terwujud dan menyerahkan PLN Luar Jawa ke Pemda. Hal ini jelas akan berdampak pada semakin tingginya biaya listrik yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia, khususnya di Jawa-Bali serta membebankan PEMDA dalam memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarkatnya. Dalam salah satu pasalnya di UU NO 20 Tahun 2002 disebutkan bahwa
usaha pembangkitan tenaga listrik dilakukan berdasakan kompetisi. Artinya untuk pembangkit tenaga listrik, setiap pemilik modal dapat berkompetisi untuk membangun instalasi tersebut. Hal ini jelas akan berdampak seperti halnya swastanisasi yang saat ini terjadi di bidang pendidikan dan kesehatan. Masyarakat yang tidak mampu secara finansial akan tertutup aksesnya untuk menikmati listrik karena tidak memiliki biaya.

Akan tetapi pada 15 Desember 2004, Mahkamah Konstitusi membatalkan UU No 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan karena bertentangan dengan konstitusi UUD’45. Untuk selanjutnya pemerintah dan DPR diminta untuk segera menyiapkan undang-undang baru sebagai pengganti UU No 20 Tahun 2002. Namun dalam Rancangan Undang-Undang Ketenagalistrikan yang baru pun masih sarat dengan bau Neoliberalisme yang akan menyengsarakan rakyat. Penyediaan ketenagalistrikan akan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah dan pemerintah daerah yang berlandaskan prinsip Otonomi Daerah. Selain itu upaya untuk menswastanisasi bidang ketenagalistrikan juga masih sangat kental dalam RUU Ketengalistrikan yang baru.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa pemerintah kapitalis saat ini memang berupaya untuk melanggengkan agenda-agenda Neoliberalisme agar dapat menguntungkan kepentingan para pemilik modal. Rakyat Indonesia oleh pemerintah kapitalis saat ini hanya dijadikan “sapi perah” agar dapat memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi para pemilik modal. Hal ini juga menunjukkan ketertundukkan pemerintah kapitalis kepada para pemilik modal dan tidak mempedulikan nasib rakyat Indonesia akibat diberlakukannya berbagai kebijakan yang dimunculkan oleh pemerintah.

Jelas bahwa sitem Neoliberalisme- Kapitalisme telah gagal untuk mensejahterakan rakyat Indonesia. Bahkan sebenarnya bukan hanya gagal, namun sistem Neoliberalisme- Kapitalisme jelas-jelas hanya akan menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia dan hanya ingin menguntungkan kepentingan- kepentingan para pemilik modal.

Maka dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) menyatakan sikap:

Menolak dengan tegas diberlakukannya Rancangan Undang-Undang Ketenagalistrikan yang baru, untuk menggantikan UU No. 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan yang telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. Karena sebenarnya RUU Ketenagalistrikan yang akan diberlakukan tersebut tidak berbeda dengan Undang-undang sebelumnya, dimana hanya akan menguntungkan kepentigan para pemilik modal dan menyengsarakan rakyat Indonesia.

Menyerukan kepada seluruh elemen gerakan rakyat di Indonesia untuk bersama-sama menggalang kekuatan dan menolak diberlakukannya Rancangan Undang-Undang Ketenagalistrikan yang dimunculkan oleh sistem Neoliberalisme- Kapitalisme.

Sistem Neoliberalisme- Kapitalisme telah gagal untuk mensejahterakan rakyat Indonesia, dan hanya dengan SOSIALISME lah rakyat Indonesia akan sejahtera.

Senin, 29 Juni 2009

Iran: Brumaire XVIII Mahmoud Ahmadinejad

Dua kandidat bersaing di dalam “pemilihan presiden” Iran, tetapi rejim Iran sudah menentukan siapa yang akan menang jauh sebelum pemilihan ini diselenggarakan. Walaupun Mousavi adalah “oposisi loyal” yang moderat, sebagian besar rakyat Iran menggunakan suara mereka untuk menyuarakan oposisi mereka terhadap rejim ini. Segera setelah “hasil pemilihan” diumumkan, kerusuhan meledak di jalan-jalan, yang menunjukkan kemarahan dan ketidakpuasan rakyat. Peristiwa ini menandai sebuah fase baru di dalam perkembangan Revolusi Iran.

Ahli sejarah Prancis, Alexis de Tocqueville, menulis bahwa momen yang paling berbahaya bagi sebuah pemerintahan yang buruk adalah ketika pemerintahan ini mencoba melakukan reformasi. Tetapi bahkan lebih berbahaya ketika pemerintahan ini menolak melakukan reformasi.

Sejarah telah mencatat banyak contoh rejim otokrat yang busuk, yang setelah periode kekuasaan yang lama runtuh karena proses pembusukan internal yang tidak dapat diubah. Di saat seperti ini, semua kontradiksi internal yang tersembunyi di bawah permukaan tiba-tiba meledak. Di Iran, ada dua tendensi utama: kaum garis-keras dan kaum reformis. Kaum reformis mengatakan: “Kita harus melakukan reformasi dari atas, kalau tidak kita akan ditumbangkan.” Kaum garis-keras mengatakan: “Kita harus menentang reformasi karena segera setelah kita mulai melakukan perubahan kita akan ditumbangkan.”. Dan kedua-duanya benar.

Apa yang benar di Prancis tahun 1789 juga benar di Iran tahun 2009. Setelah tiga dekade berkuasa, rejim mullah ini sangatlah tidak popular. Para analis oleh karena itu memprediksikan Mousavi, yang dikenal luas sebagai seorang “reformis”, untuk meraih suara yang besar di dalam pemilihan ini. Debat presidensial antara Mousavi dan Ahmadinejad merangsang negeri Iran, dan di hari-hari terakhir kampanye Mousavi meledak, yang memicu demonstrasi-demonstrasi besar di jalan-jalan Tehran. Apa yang ditunjukkan oleh demo-demo tersebut adalah keinginan yang membara untuk sebuah perubahan.

Mousavi diprediksikan untuk mengalahkan Ahmadinejad bila tingkat partisipasi pemilu tinggi – atau setidaknya mampu meraih cukup suara untuk memicu putaran kedua. Para pejabat pemerintahan mengumumkan bahwa jumlah pemilih yang tinggi seperti ini tidak pernah terlihat di dalam sejarah Iran, dan ini diprediksikan akan meningkatkan peluang Mousavi untuk menang. Pada hari Sabtu (13 Juni) dua pejabat mengatakan bahwa tingkat partisipasi pemilih melebihi 80 persen.

Goncangan ekonomi di Iran selama 4 tahun belakangan ini pasti sudah memotong dukungan terhadap Ahmadinejad, bahkan di daerah-daerah rural (pedesaan). Akan tetapi, pemerintah Iran mengumumkan bahwa Ahmadinejad bukan hanya memenangkan pemilihan ini tetapi juga menang telak dengan 62,63% suara, dibandingkan dengan 33,75% untuk Mir Hossein Mousavi. Menurut hasil ini, yang diumumkan dengan terburu-buru, Mousavi bahkan kalah di daerah Teheran yang merupakan basis utamanya. Kecurangan pemilu ini sungguh sangat menyolok mata bahkan ini mengejutkan rakyat Iran yang sudah terbiasa dengan kecurangan pemilu.

Kecurangan Pemilu

Cepatnya pengumuman hasil pemilu sudah merupakan bukti yang cukup bahwa ada kecurangan yang masif. Iran masih merupakan sebuah negara pedesaan dengan infrastruktur yang tidak memungkinkan penghitungan suara yang cepat. Di sebuah pemilu yang jujur, dibutuhkan beberapa hari untuk mengumpulkan semua hasil dari propinsi-propinsi, desa-desa, dan daerah-daerah pedalaman. Justru Ahmadinejad segera mengumumkan bahwa dia telah menang dengan suara mayoritas. “Rakyat Iran memberikan inspirasi bagi semua bangsa dan menciptakan sebuah sumber kebanggaan bangsa dan mengecewakan semua pengkritiknya,” kata Ahmadinejad di pidato TV nasional hari Sabtu malam (sehari setelah pemilu pada hari Jumat). “Pemilu ini diselenggarakan di waktu yang genting di sejarah.”

Bagi sebuah rejim despot yang memegang semua kekuasaan dengan erat di tangannya, bukanlah sebuah tugas yang sulit untuk mencurangi sebuah pemilu. Setelah tempat-tempat pemilihan suara (TPS) ditutup – menurut laporan dari Iran – Pasukan Tentara Revolusioner Iran yang bersenjata lengkap keluar ke jalan-jalan. Di satu area di Tehran utara, basis dari kaum oposisi dan reformis mantan Perdana Menteri Mousavi, jurnalis-jurnalis asing melaporkan melihat sebuah konvoi setidaknya 15 kendaraan militer yang dipenuhi oleh tentara-tentara bersenjata. Kantor Kementerian Dalam Negeri diblokade dan dijaga dengan ketat karena rejim ini takut kalau pendukung Mousavi akan berkumpul di sana untuk memprotes hasil pemilu.

Ibrahim Yazdi, figur oposisi Iran dan mantan menteri luar negeri Iran pada permulaan Republik Islam, mengatakan kepada jurnalis Amerika Robert Dreyfuss:

“Banyak dari kita yang percaya bahwa pemilu ini dicurangi. Bukan hanya Mousavi. Kita tidak meragukan ini. Dan menurut kami, pemilu ini tidak punya legitimasi. Banyak sekali kejanggalan-kejanggalan. Mereka tidak mengijinkan para kandidat untuk memonitor pemilu ini atau memonitor penghitungan suara di TPS-TPS. Menteri Dalam Negeri mengumumkan bahwa dia akan memonitor penghitungan suara akhir di kantor dia, di kantor kementrian, hanya dengan dua pembantu yang hadir.

“Di pemilu-pemilu sebelumnya, mereka mengumumkan hasil pemilu di setiap distrik, supaya rakyat bisa mengikutinya dan memutuskan validalitas dari hasil tersebut. Pada tahun 2005, banyak masalah: di satu distrik ada sekitar 100.000 pemilih, dan mereka mengumumkan total suara 150.000. Kali ini mereka bahkan tidak mengumumkan informasi dari setiap distrik.

“Secara keseluruhan, ada 45.000 TPS. Ada 14.000 TPS bergerak, yang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Banyak dari kita yang memprotes ini. Sejatinya, TPS bergerak ini seharusnya digunakan di rumah sakit dan sebagainya. Sekarang, mereka digunakan di kantor-kantor polisi, barak-barak tentara, dan markas-markas tentara lainnya. Bila 500 suara dipalsukan di setiap 14 ribu kotak suara ini, totalnya adalah 7 juta suara

“Mousavi dan Karroubi [kandidat oposisi utama] sebelumnya telah membentuk sebuah komite bersama untuk melindungi suara rakyat. Banyak kaum muda yang menjadi sukarelawan untuk komite ini. Tetapi pihak otoritas tidak mengijinkan komite ini. Kemarin malam [yakni, malam pemilu] pihak keamanan menutup komite tersebut. Tidak ada cara, yang independen dari pemerintahan dan Majelis Wali (Guardian Council), untuk menverifikasi hasil pemilu ini.”

Dengan sebuah pemilu yang dicurangi di kantongnya, kesombongan Ahmadinejad sungguh tidak ada batasnya. Dia mengatakan bahwa pemilu ini adalah “model demokrasi” dan menuduh “penindas dari Barat” mengkritik proses pemilu tersebut. “Pada pemilu hari Jumat, rakyat Iran bangkit menang,” seru Ahmadinejad.

“Pemilu di Iran sangatlah penting. Pemilu berarti konsensus kebulatan tekad rakyat dan kristalisasi tuntutan dan kehendak mereka, dan ini adalah loncatan menuju puncak aspirasi dan progres. Pemilu di Iran adalah gerakan yang benar-benar popular yang dimiliki oleh rakyat yang melihat ke masa depan, bertujuan untuk membangun masa depan.”

Dia mengindikasikan progres melalui konsensus, mengatakan bahwa perubahan ekonomi dan infrastruktur dapat dicapai di Iran melalui sebuah proses kolektif. “Kita semua bisa bekerja sama”, kata dia, pada saat yang sama preman-preman bersenjata dia memukuli orang-orang di jalanan. Puluhan ribu pendukung Ahmadinejad yang mengibarkan bendera berkumpul di Taman Valiasr di Tehran untuk mendengarkan pidato kemenangan dia, dimana dia berusaha menunjukkan kekuatan dia guna merepresi protes kaum oposisi.

“Pemilu pada tanggal 12 Juni adalah sebuah ekspresi artistik dari bangsa ini, yang menciptakan sebuah perkembangan baru di dalam sejarah pemilu di negara ini,” kata Ayatollah Khamenei. “Tingkat partisipasi lebih dari 80% dan 24 juta surat suara untuk presiden yang terpilih adalah sebuah perayaan yang sesungguhnya, dari mana kekuatan Tuhan yang maha besar akan dapat menjamin perkembangan, progres, keamanan nasional, dan kebahagiaan dan gelora bangsa ini.”

Protes-Protes Spontan

Negara Iran sungguh-sungguh bergelora – tetapi bukan karena kebahagiaan. Kandidat reformis Mehdi Karrubi mengatakan bahwa hasil pemilu yang diumumkan adalah sebuah “lelucon” dan “mengejutkan”. Bahkan ketika Ahmadinejad memuji hasil pemilu dan tingkat partisipasi, Mousavi dan pendukungnya di jalan-jalan Tehran geram dan pertikaian di jalanan meledak. Pada hari Sabtu sore, jalan-jalan di ibukota Iran biasanya sepi. Tetapi hari Sabtu kemarin, demo-demo spontan meledak di jalan-jalan Tehran. Ini merefleksikan sebuah kemarahan, keputusasaan, dan kebencian besar yang terakumulasikan di dalam masyarakat Iran yang sekarang hamil dengan revolusi.

Khamenei menyerukan bahwa rakyat Iran harus mengambil napas panjang setelah pemilu. “Hari Sabtu setelah pemilu harus selalu menjadi hari penuh kasih sayang dan kesabaran,” kata Khamenei. “Para pendukung dari kandidat terpilih dan kandidat lainnya harus menahan diri dari provokasi dan sikap-sikap yang mencurigakan. Presiden yang terpilih adalah presiden dari seluruh rakyat Iran dan semua orang, termasuk para lawannya kemarin, harus melindungi dan menolong dia.” Kata-kata dari Pemimpin Tertinggi ini menunjukkan ketakutan rejim Iran terhadap kekacauan publik. Tidaklah salah bagi mereka untuk merasa ketakutan.

Para demonstran berteriak, “Presiden melakukan kejahatan dan Pemimpin Tertinggi mendukungnya”. Ini adalah sebuah kalimat yang provokatif di sebuah rejim dimana Pemimpin Tertinggi, Ali Khamenei, dianggap selalu benar. Toko-toko, kantor-kantor pemerintah dan bisnis tutup lebih awal karena situasi yang semakin tegang. Massa juga berkumpul di luar markas Mousavi tetapi tidak ada tanda-tanda kehadiran lawan politik utama Ahmadinejad. Para pendukung mengayunkan kepalan tangan mereka dan meneriakkan slogan-slogan anti-Ahmadinejad.

Para demonstran membakar tong-tong sampah dan ban, membuat asap-asap hitam yang membumbung tinggi di antara gedung-gedung apartemen dan perkantoran di Tehran. Sebuah bis yang kosong diamuk api di pinggiran jalan. Polisi melawan balik dengan pentungan mereka, termasuk polisi di sepeda motor yang mengayunkan pentungan mereka, dan para demonstran melempar batu-batu dan botol-botol ke polisi sambil berteriak “Ahmadinejad, kembalikan suara kami” dan “Pemilu ini penuh dengan kebohongan”.

Lebih dari 100 figur reformis, termasuk Mohammad Reza Khatami, saudara dari mantan presiden Mohammad Khatami, ditangkap, menurut pemimpin reformis Mohammad Ali Abtahi. Dia mengatakan kepada jurnalis Reuters bahwa mereka yang ditangkap adalah anggota partai reformis utama, Mosharekat. Pembicara dari jaksa agung menyangkal bahwa mereka telah ditangkap tetapi mengatakan bahwa mereka dipanggil dan “diperingati untuk tidak meningkatkan ketegangan” sebelum dilepas. Negara Iran memenjara dan menyiksa banyak aktivis buruh dan memukuli mahasiswa, tetapi para politisi borjuasi dilepas dengan hanya tamparan di tangan.

Rakyat melihat keluar dari jendela dan balkon untuk menyaksikan barisan demonstran di jalanan, kebanyakan dari mereka adalah pendukung Mousavi dan melakukan demo yang berisik tetapi damai. Malam harinya, massa yang geram dan marah berkumpul di Taman Moseni di Tehran, merusaki toko-toko, membakar barang-barang dan merusak tanda-tanda lalu lintas. Dua kelompok massa saling berhadapan di taman tersebut, saling melempar batu dan berteriak marah. Pengamat mengatakan bahwa kedua pihak tersebut mungkin adalah pendukung Ahmadinejad di satu pihak dan pendukung Mousavi di pihak lain.

Protes-protes ini, yang jelas-jelas spontan, tidak terbatas di Tehran. Mereka juga pecah di kota-kota lain, termasuk Tabriz, Orumieh, Hamedan, dan Rahst. Jelas kalau tidak ada yang mengorganisir demo-demo ini, apalagi para pemimpin reformis.Teknologi yang baru telah menjadi taktik kunci untuk secara politik memobilisasi kaum muda di Iran, tetapi SMS tidak berfungsi beberapa hari belakangan ini dan Facebook ditutup. Akan tetapi, metode lama dari-mulut-ke-mulut masih berfungsi dan para demonstran Iran masih hadir beramai-ramai di tempat-tempat pertemuan di seluruh Tehran pada hari Sabtu.

Pada hari Minggu, kerusuhan berlanjut. “Ada permainan kucing dan tikus antara para perusuh dan polisi”, lapor Samson Desta, seorang reporter CNN, yang dipukul dengan pentungan polisi. “Untuk sementara, tampaknya polisi telah mengontrol situasi. Tetapi kita berbicara dengan banyak mahasiswa dan mereka mengatakan ‘Ini tidak akan selesai begitu saja. Mereka bisa saja menghentikan kita sekarang tetapi kita akan kembali dan memastikan bahwa suara kita didengar’.”

Ini adalah hari kedua protes di Tehran. Pada haru Sabtu, ribuan demonstran meneriakkan slogan “Hancurkan kediktaturan” dan “Kita ingin kebebasan”, dan membakar sepeda motor polisi, menimpuk batu ke jendela toko-toko, dan membakar tong-tong sampah.

Pada hari Minggu malam, jalan-jalan Tehran dipenuhi dengan ketenangan yang mencekam, tetapi reporter BBC Jon Leyne yang berada di kota melaporkan pertikaian terjadi dekat kantor Irna (media berita ofisial Iran), dan setidaknya di satu daerah sub-urban. Juga ada laporan penutupan media independen. Kantor stasiun TV Arab al-Arabiya yang didanai oleh Saudi ditutup “tanpa alasan jelas”, kata kantor berita tersebut. Pelayanan telpon seluler sudah dikembalikan tetapi masih ada laporan bahwa SMS tetap dibatasi dan akses ke situs-situs internet popular dihalangi, termasuk situs BBC. Tindakan-tindakan ini bukan menunjukkan kepercayaan diri tetapi kegelisahan yang ekstrim dari pihak rejim.

Kemunafikan Kaum Imperialis

Seluruh dunia merespon, dimana negara-negara seperti Amerika dan Kanada menyuarakan keprihatinan mereka mengenai klaim kejanggalan pemilu. Tetapi pemerintahan-pemerintahan negara Barat yang biasanya sangat vokal dalam mengkritik pelanggaran HAM di Iran sekarang sangat hati-hati dalam menanggapi kecurangan pemilu dan kekerasan di Iran.

Menurut sebuah laporan CNN, komandan militer Amerika di Timur Tengah dikirimi sebuah pesan untuk mengingatkan pasukan Amerika untuk menjaga disiplin dan hati-hati bila mereka berhadapan dengan pasukan militer Iran selama gejolak politik yang mungkin terjadi seputar pemilihan presiden di Iran. Kekhawatiran militer Amerika juga mempertimbangkan “sensitifitas Iran yang meninggi dan bahkan mungkin kekhawatiran akan ancaman keamanan internal dan eksternal yang mungkin terjadi,” kata salah seorang pejabat militer.

Kritik dari Washington tidak seperti biasa, kali ini sangat sepi. Hilary Clinton telah menutup mulut dia, dan membiarkan wapres AS, Joe Biden, untuk mengekspresikan “keraguan” mengenai “bagaimana mereka menindas massa, bagaimana mereka memperlakukan para demonstran”. Walaupun dengan bahasa yang lebih halus dia mengatakan bahwan AS harus menerima “untuk sementara” klaim dari pemerintah Iran bahwa Ahmadinejad memenangkan pemilu ini. Biden mengatakan, “Ada banyak masalah bagaimana pemilu ini diselenggarakan. Kita tidak memiliki bukti yang cukup untuk membuat penilaian yang pasti.”

Menteri luar negeri Prancis, Bernard Kouchner, mengatakan bahwa Prancis kawatir akan situasi di Iran dan mengkritik “reaksi yang sedikit brutal” oleh pihak otoritas dalam merespon demo-demo. Uni Eropa mengatakan di dalam sebuah pernyataan bahwa mereka “khawatir akan kejanggalan-kejanggalan yang dilaporkan” selama pemilu pada hari Jumat.

Respon yang ragu-ragu dan sopan dari negara-negara imperialis ini bukanlah sebuah kebetulan. Mereka takut akan meledaknya revolusi di Iran yang akan menjadi seperti sebuah gempa di seluruh Timur Tengah dan Asia. Terlebih lagi, Washington berharap untuk membina hubungan baik dengan pemerintah Tehran, yang bantuannya dibutuhkan untuk memastikan penarikan mundur pasukan dari Irak dan menyediakan rute suplai ke Afghanistan yang terjamin. AS juga membutuhkan dukungan Iran untuk “inisiatif perdamaian” untuk masalah Palestina baru-baru ini. Setidaknya AS memerlukan kepastian bahwa Iran tidak akan menyabotase usaha ini – walaupun Netanyahu telah melakukan tugas yang baik dengan menuntut bahwa negara Palestina yang terbentuk harus dilucuti dan tidak ada hak untuk kembali ke diaspora Palestina.

Faktor-faktor inilah yang menentukan kebijakan yang bersifat damai dari Obama terhadap Iran, yang sudah kita prediksikan sebelumnya [baca The invasion of Gaza: what does it mean?] Satu minggu setelah menjadi presiden, Obama menawarkan perdamaian kepada Tehran, meminta rejim ini untuk “melonggarkan kepalan tangan mereka”. Dua bulan kemudian, Obama menayangkan sebuah pesan untuk Iran, untuk pertama kalinya mengakui para Ayatollah (pemimpin agama Shiite) sebagai perwakilan rakyat Iran yang sah. Bulan lalu, Obama mengakui hak Republik Islam Iran untuk memperkaya Uranium dan di Kairo dia mengakui keterlibatan CIA dalam penumbangan pemerintah Mossadegh lebih dari setengah abad yang lalu.

Rakyat Iran memiliki memori yang panjang dan cukup mengenal imperialisme untuk membencinya dengan seluruh hati mereka. Ketika perdana menteri Mossadegh ditumbangkan pada kudeta 1953 yang diorganisir oleh CIA dan intelejen Inggris, “demokrasi” Barat menggantikan demokrasi Iran dengan kediktaturan Shah. Kekuasaannya yang penuh darah dan korupsi adalah berdasarkan teror massa dimana polisi rahasia Savak yang terkenal sangat buruk melakukan kampanye pembunuhan dan penyiksaan secara sistematis. “Demokrasi” Barat mendukung boneka despot imperialis ini dan tidak berkomentar apa-apa mengenai pelanggaran HAM di Iran pada saat itu. Inilah mengapa rakyat Iran tidak punya alasan untuk mempercayai kehendak baik dari imperialisme atau mendengarkan khotbah “demokrasi mereka hari ini!”

Perpecahan di dalam rejim

Setelah pemilu, Teheran dipenuhi dengan rumor kudeta. Tetapi pada kenyataannya kudeta ini tidak dibutuhkan. Ahmadinejad telah mengumpulkan begitu banyak kekuasaan di tangannya sehingga dia telah menegakkan kediktaturan, secara de facto walaupun bukan secara legal. Selain pasukan reguler, dia mengontrol Pasukan Revolusioner, yang dia gunakan untuk membabat demo-demo secara brutal pekan yang lalu. Ahmadinejad mengontrol kementrian dalam negeri, kementrian informasi, dan kementrian intelejen.

Setelah pemilu, pihak keamanan menduduki banyak kantor-kantor suratkabar, untuk memastikan bahwa laporan mengenai pemilu mereka sesuai dengan versi pemerintah. Mereka merubah berita utama di banyak koran-koran. Ini adalah cara yang baik untuk memastikan laporan pemilu yang bagus! Pasukan Revolusioner mengambil alih segalanya, termasuk institusi ekonomi. Kementrian Dalam Negeri memperketat kontrolnya di seluruh propinsi.

Ada juga rumor bahwa Ahmadinejad memikirkan berpikir untuk mengubah konstitusi untuk membolehkan presiden menjabat lebih dari dua periode, guna membuat kepresidenan dia lebih permanen. Dia sedang mengulangi kudeta Louis Bonaparte, yang mengkombinasikan pemilu yang curang dan intrik-intrik parlemen dengan sebuah kampanye teror yang dilakukan oleh Masyarakat 10 Desember, yang beranggotakan preman-preman, kriminal-kriminal, dan lumpenproletar. Basis sosial Ahmadinejad juga serupa: kaum tani terbelakang, yang dapat digunakan untuk melawan penduduk kota-kota yang lebih maju.

Secara teori situasinya tampak tidak ada harapan. Tetapi ini hanyalah di permukaan saja. Ahmadinejad dan pendukungnya telah menang pemilu, tetapi pemilu ini telah menyebabkan kemarahan dan kegeraman di ibukota Iran. Pemerintahan yang baru ini akan dihadapi dengan masalah-masalah serius di semua level, terutama ekonomi. Ilusi-ilusi terakhir dari kaum tani akan hancur oleh kesukaran yang disebabkan oleh krisis ekonomi.

Di periode yang terakhir, Ahmadinejad bisa tetap berkuasa sebagian karena menggunakan represi dan demagog anti-Amerika, tetapi terutama karena kekayaan minyak Iran untuk melakukan kebijakan-kebijakan yang popular. Ini memastikan dia basis dukungan tertentu dari populasi, terutama di antara kaum tani. Tetapi sekarang dengan krisis ekonomi dan jatuhnya harga minyak, ini akan memotong ruang manuver Ahmadinejad. Di lain pihak, demagog “anti-imperialis” dia telah menjadi semakin lemah. Rakyat tidak bisa makan bom nuklir!

Sejarah rejim-rejim diktatur dan otokrat menunjukkan bahwa mustahil untuk mempertahankan rejim seperti itu hanya dengan basis represi saja. Segera setelah massa bergerak, tidak ada aparatus negara apapun, walaupun sangat kuat dan kejam, yang dapat menghentikan mereka. Ini adalah pelajaran dari Prancis tahun 1789, dari Tsar Rusia tahun 1917 dan Shah Iran tahun 1979. Louis Bonaparte merebut kekuasaan dengan kudeta dan berkuasa selama dua dekade. Tetapi pada akhirnya kekuasaan dia diakhiri oleh Komune Paris. Ahmadinejad tidak akan berkuasa selama itu karena alasan-alasan yang kita sudah kita paparkan, dan semakin lama dia bertengger berkuasa, semakin eksplosif situasinya dan semakin tajam kontradiksi internal di dalam rejim ini.

Walaupun menunjukkan taring mereka, retakan-retakan internal yang sedang memecahkan rejim ini semakin mendalam. Ada suara di dalam rejim yang menentang Ahmadinejad. Dan tidaklah jelas bila dia dan Sepah (Pasukan Revolusioner) cukup kuat untuk melawan mereka. Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, sedang memainkan peran Bonaparte, menyeimbangkan faksi-faksi yang ada. Akan ada pertentangan dan perpecahan antara faksi-faksi yang berbeda yang merefleksikan krisis yang mendalam di rejim itu sendiri.

Di wawancara yang sudah kita sebut, Ibrahim Yazdi merujuk pada perpecahan di dalam rejim:

“Setelah pemilu yang terakhir [2005], setelah Ahmadinejad pertama kali terpilih, banyak pertanyaan yang dilontarkan mengenai usaha Ahmadinejad untuk mengisolasi Pemimpin Tertinggi. Kita membicarakan ini secara terbuka. Kali ini, dalam persiapan pemilu, mereka semakin mengisolasi dia. Contohnya, dulu [mantan presiden] Ali Akbar Hashemi-Rafsanjani mempunyai pengaruh, bahkan lebih berpengaruh dibandingkan pemimpin. Sekarang, dengan slogan yang digunakan di demo Ahmadinejad, slogan seperti “Gantung Hashemi!”, mereka telah menciptakan jurang yang dalam. Khamenei juga telah kehilangan dukungan dari anggota-anggota majelis ulama tingkat tinggi.”

Kepengecutan Kaum Reformis

Kaum reformis liberal di Iran dan di luar negeri telah tenggelam jauh di dalam keputusasaan. Mousavi telah berjanji akan melawan hasil pemilu ini, dengan menggunakan kata-kata seperti “tirani” dan menambahkan “Saya tidak akan menyerah pada penipuan yang berbahaya ini.” Bahkan sebelum penghitungan suara selesai, Mousavi mengeluarkan sebuah surat yang keras yang menuntut dihentikannya penghitungan suara karena “pelanggaran-pelanggaran berat yang jelas” dan menuduh pemilu ini bukan proses yang jujur.

Pemimpin oposisi ini mengatakan bahwa hasil pemilu dari “pengawas yang tidak bisa dipercaya” merefleksikan “melemahnya pilar-pilar sistem yang suci” dari Iran dan “melemahnya kekuasaan otoriter dan tirani.” Pengawas pemilu independen dilarang di TPS-TPS. Mousavi mengatakan di pernyataannya, “Hasil yang diumumkan untuk pemilihan presiden ke 10 ini sangatlah mengejutkan. Rakyat yang berdiri di antrian yang panjang dan tahu siapa yang mereka pilih benar-benar tercengang oleh para pesulap yang bekerja di televisi dan radio.”

Korannya Mousavi, Kalemeh Sabz, atau Kata Hijau, tidak terbit hari ini. Seorang editor yang tidak ingin namanya disebut mengatakan bahwa pihak otoritas berang dengan pernyataan-pernyataan Mousavi. Website koran ini melaporkan bahwa ada lebih dari 10 juta suara di hari pemilihan (Jumat) yang tidak memiliki nomor identitas nasional, yang membuat suara-suara ini “tidak bisa ditelurusi”.

Pendukung Mousavi turun ke jalan-jalan ibukota untuk menghadapi pentungan dan gas air mata, dan Houssein Mousavi mengajukan tuntutan formal menentang hasil pemilu. Dia telah mengajukan tuntutan ini ke Dewan Majelis (Council of Guardians) untuk membatalkan hasil pemilu ini, dan meminta pendukungnya untuk tetap memprotes “dengan cara yang damai dan legal”. “Kita telah meminta pihak pemerintah untuk mengijinkan kita mengadakan demo nasional untuk membiarkan rakyat menunjukkan penolakan mereka terhadap proses pemilu dan hasilnya,” kata Mousavi. Dewan Majelis adalah institusi yang diberi mandat oleh konstitusi, yang beranggotakan enam ulama dan enam yuris (ahli hukum) yang berfungsi sebagai otoritas elektoral Iran dan memiliki kuasa lainnya. Tetapi Ayatollah Ali Khamenei adalah Pemimpin Tertinggi dan dia telah mengatakan bahwa pemilu ini telah diselenggarakan dengan jujur dan memerintah ketiga kandidat yang kalah dan pendukung mereka untuk menghindari sikap “provokatif”.

Demo massa yang direncanakan oleh oposisi untuk memprotes kecurangan pemilu telah dilarang. Oleh karena itu, jalan untuk memprotes melalui cara-cara legal dan konstitusional telah tertutup. Satu-satunya cara untuk memenangkan hak-hak demokratik di Iran adalah dengan mengambil jalan revolusioner. Iran, kata Mousavi, “adalah milik rakyat dan bukan milik para penipu.” Bahkan ada rumor bahwa dia akan menyerukan mogok umum. Tetapi pidato adalah murah, dan pemimpin reformis borjuis Iran akan lebih ketakutan menghadapi gerakan rakyat dibandingkan menghadapi Khamenei.

Peran Kelas Pekerja

Seperti Partai Kadet di Rusia (pada jaman Lenin dan Trotsky - Ed), kaum reformis liberal di Iran takut akan meledaknya revolusi. Ibrahim Yazdi mengatakan kepada jurnalis Amerika: “Tentu saja kita kawatir akan reaksi-reaksi spontan. Kaum muda Iran telah beraksi dan termobilisasi. Di seluruh pelosok negeri, sudah terjadi benturan-benturan yang melibatkan kekerasan. Kita tidak setuju dengan kekerasan, karena kekerasan hanya akan memberikan alasan bagi sayap Kanan untuk menindas kaum oposisi.” Dan lalu: “Kita tidak mengincar subversi. Kita tidak ingin mengganti Konstitusi. Kita ingin menciptakan sebuah kekuatan politik yang kuat yang mampu menggunakan pengaruhnya.” Kata-kata ini mengindikasikan psikologi yang sesungguhnya dari kaum reformis borjuis Iran. Mereka bisa saja mengkopi kata-kata ini dari koran-koran kaum Liberal Rusia pada bulan Februari 1917.

Akan tetapi, analogi sejarah yang sebenarnya bukan Rusia tahun 1917, tetapi tahun 1904 atau bahkan sebelum itu. Seperti Revolusi Rusia sebelum 1905, Revolusi Iran masihlah dalam tahapan embrio. Ia masih membutuhkan waktu yang panjang untuk tumbuh, dan ini bukanlah hal yang buruk dari sudut pandang kaum Marxis Iran yang membutuhkan waktu untuk membangun kekuatan mereka. Seperti kaum pekerja Rusia sebelum 1905, kelas pekerja Iran kebanyakan masih muda dan tidak berpengalaman. Generasi aktivis pekerja yang tua, yang kebanyakan dibentuk oleh sekolah Stalinisme, sebagian besar telah hilang, dihancurkan oleh represi atau kebingungan karena kebijakan keliru dari pemimpin mereka.

Dibutuhkan waktu dan pengalaman, kemenangan dan kekalahan, sebelum kelas pekerja Iran tiba pada kesimpulan akan perlunya perebutan kekuasaan. Mari kita ingat bahwa pada bulan Januari 1905 kaum proletar Rusia yang muda pertama kali muncul di lembaran sejarah dengan sebuah demonstrasi damai yang dipimpin oleh seorang pendeta, dengan tanda-tanda religius di tangan mereka, dan membawa petisi untuk Tsar. Tetapi satu pertikaian berdarah cukup untuk mendorong mereka ke jalan revolusi dalam waktu 24 jam. Kita dapat mengharapkan perubahan cepat dan tajam yang serupa di Iran.

Kampanye Mousavi telah membangkitkan harapan banyak orang, terutama kaum muda kelas menengah dan para perempuan (dia menjanjikan lebih banyak hak untuk perempuan). Sekarang harapan-harapan ini telah pupus. Polisi dan “Pasukan Revolusioner” telah memberikan sebuah pelajaran yang bagus kepada para pemuda mengenai nilai demokrasi Iran dengan pentungan, pukulan, dan tendangan. Situasi di Iran masih eksplosif. Tetapi dengan tidak adanya sebuah program, perspektif, dan kepemimpinan yang jelas, demo-demo jalanan tanpa tujuan dan kerusuhan tidak akan menghasilkan apa-apa. Oleh karena itu, kemungkinan gelombang protes akan menurun untuk sementara. Tetapi gelombang ini akan kembali dengan kekerasan yang lebih besar di kemudian hari.

Kaum reformis menangis dan meratap mengenai kekalahan pemilu mereka, tetapi sebenarnya pemilu ini tidak menyelesaikan masalah apapun bagi rakyat Iran, kelas pekerja Iran, atau rejim ini. Rejim tua ini seperti Old Man of the Sea (Orang Tua di Laut) yang naik ke pundak Sinbad dan menolak untuk turun. Pemilu ini hanyalah satu pelajaran dari sekolah kehidupan yang sukar, yang pada akhirnya akan meyakinkan kaum buruh dan kaum muda bahwa dibutuhkan kebijakan-kebijakan yang radikal untuk menurunkan Orang Tua ini dari punggung mereka.

Kelemahan yang sesungguhnya dari gerakan demokrasi ini adalah bahwa kaum proletar Iran yang kuat belum bergerak seperti yang terjadi pada tahun 1979. Setelah bertahun-tahun penindasan dimana gerakan buruh secara efektif terpancung, kelas pekerja membutuhkan waktu untuk menemukan pijakannya. Seperti seorang atlit yang sudah lama tidak aktif, kelas pekerja Iran harus melenturkan otot-otot mereka dan mulai berlatih sebelum bergerak secara pasti. Sudah banyak pemogokan yang terjadi karena isu-isu ekonomi. Tekanan dari bawah sedang terkumpul. Tekanan ini menemukan refleksinya di Dewan Buruh (Labour House), sebuah organisasi yang dibentuk oleh rejim Iran untuk mengontrol pekerja. Belum lama yang lalu, bahkan koran ofisial dari Dewan Buruh ini mempublikasikan sebuah artikel oleh Lenin. Bagaimana waktu sudah berubah!

Iran adalah sebuah negara yang penduduknya kebanyakan masih muda. Umur median dari populasinya adalah 27. Kaum muda ini tidak bisa mengingat waktu dimana para ulama tidak berkuasa. Dulu, para ulama dianggap suci dan tidak bisa dikorupsi, kebalikan dari monarki pro-Barat (Shah) yang bangkrut. Tetapi ini dulu sekali. Setelah puluhan tahun berkuasa, para ulama telah terekspos korup dan rejim ini kehilangan otoritas yang dulu mereka miliki. Ahmadinejad harus mendatangkan pendukungnya dari desa-desa dengan bus-bus guna mengadakan rally massa. Basis dia yang sesungguhnya adalah Pasukan Revolusioner, tetapi bahkan mereka sudah tidak menyebabkan ketakutan seperti dulu. Hal yang paling signifikan mengenai kerusuhan pekan ini bukan bahwa mereka ditekan, tetapi bahwa banyak orang yang siap turun ke jalan untuk menentang pemerintah dan kekuatan represifnya. Ini berarti rejim ini semakin kehabisan waktu.

Pada akhirnya, ini akan menyebabkan sebuah krisis. Pemerintahan ini akan menjadi pemerintahan krisis, yang kemungkinan tidak akan bisa menjalani satu periode penuh. Perpecahan sosial dan politik di dalam Iran akan semakin membesar. Militansi pekerja akan menjadi semakin besar dan mengekspresikan dirinya pertama melalui mogok-mogok ekonomi untuk upah dan kondisi kerja yang lebih baik, seperti yang sudah kita saksikan beberapa tahun belakangan ini, dan kemudian akan menjadi mogok-mogok dan demo-demo politik. Yang paling mendesak sekarang adalah untuk mengorganisir buruh dan memberikan gerakan ini sebuah program, kebijakan, dan panji yang jelas. Ini hanya bisa dilakukan di bawah bendera sosialisme.

Cukup alami kalau mahasiswa sekarang memainkan sebuah peran kunci pada tahapan revolusi ini. Ini serupa dengn situasi di Rusia tahun 1901-03, atau di Spanyol 1930-1931, sebelum jatuhnya monarki. Trotsky menulis saat itu:

“Ketika kaum borjuis secara sadar dan keras kepala menolak memberikan solusi untuk tugas-tugas yang mengalir dari krisis di dalam masyarakat borjuasi; ketika kaum proletar tampak masih belum siap untuk memberikan solusi untuk tugas-tugas itu, maka sering sekali panggung ini diambil oleh mahasiswa … aktivitas revolusioner atau semi-revolusioner dari mahasiswa berarti bahwa masyarakat borjuasi sedang melewati sebuah krisis yang dalam …

“Kaum buruh Spanyol menunjukkan sebuah insting revolusioner yang sepenuhnya tepat ketika mereka memberikan dukungan kepada demo-demo mahasiswa. Ini harus dilakukan di bawah bendera mereka sendiri dan di bawah kepemimpinan organisasi proletar mereka sendiri. Ini harus dijamin oleh komunisme Spanyol, dan untuk itu sebuah kebijakan yang tepat dibutuhkan.

“Jalan ini mensyaratkan dari kaum komunis sebuah perjuangan yang pasti, berani, dan penuh energi untuk slogan-slogan demokratis. Bila ini tidak dimengerti, maka ini akan menjadi kesalahan sektarianisme yang terbesar … Bila krisis revolusioner ditransformasikan menjadi sebuah revolusi, secara tak terelakkan ini akan melewati batas-batas borjuasi, dan bila kemenangan teraih, ini akan memindahkan kekuasaan ke tangan proletar.” (Trotsky, Problems of the Spanish Revolution, Mei 1930)

Kekuatan Marxis Iran masihlah kecil tetapi setiap hari mereka bertambah besar. Dengan mengkombinasikan secara trampil tuntutan-tuntutan demokratis dengan tuntutan-tuntutan transisional, menghubungkan perjuangan sehari-hari dengan ide revolusi sosialis, mereka akan meraih telinga kaum buruh dan muda yang lebih luas yang sedang mencari sebuah perubahan fundamental di dalam masyarakat. Masa depan Iran terletak di atas jalan revolusi, dan revolusi Iran ditakdirkan untuk mengguncang dunia.

London, 15 Juni, 2009

di ambil dari artikel : http://www.marxist.com
Diterjemahkan oleh : Ted S. 17 Juni 2009.

Selasa, 12 Mei 2009

Kaum Proletar dan Revolusi

Leon Trotsky (1904)

Sumber: The Proletariat and the Revolution . Trotsky Internet Archive
Penerjemah: Ted Sprague dan Kelompok Kijaru (May 2009)

Pengantar

Artikel ”Kaum Proletar and Revolusi” dipublikasikan pada akhir tahun 1904, setahun setelah dimulainya perang dengan Jepang. Ini merupakan tahun yang sulit bagi penguasa otokrat Rusia. Dimulai dengan demonstrasi patriotik dan berakhir dengan serangkaian kekalahan di medan perang yang memalukan dan bangkitnya aktivitas politik dari kelas-kelas yang kaya. Zemstvo (institusi lokal yang dipilih untuk mengurusi permasalahan lokal) yang dikepalai oleh kaum liberal pemilik tanah mengadakan sebuah kampanye politik mendukung ketertiban konstitusional. Kelompok-kelompok liberal lainnya, organisasi orang-orang profesional (yang disebut oleh Trotsky sebagai “kaum demokrat” dan “elemen-elemen demokrasi”) bergabung dengan gerakan ini. Pemimpin-pemimpin Zemstvo menyerukan sebuah konvensi terbuka di Petersburg (6 Nopember) yang menuntut kebebasan demokrasi dan sebuah konstitusi. “Elemen-elemen demokrasi” mengorganisasi pertemuan-pertemuan publik yang dihadiri oleh tokoh-tokoh politik di bawah samaran pesta-pesta pribadi. Pres liberal menjadi lebih berani menyerang pemerintah. Pemerintah mentoleransi gerakan ini. Pangeran Svyatopolk-Mirski, yang menggantikan Von Pleve, seorang diktator reaksioner yang dibunuh pada bulan Juli 1904 oleh seorang kaum revolusioner, telah menjanjikan “hubungan baik” antara pemerintah dan masyarakat. Dalam jargon politik, periode toleransi ini, yang berlangsung dari bulan Agustus hingga akhir tahun, dikenal sebagai era “Musim Semi”.

Ini adalah sebuah periode yang menggairahkan, penuh dengan harapan-harapan politik. Namun, anehnya, kaum pekerja tidak bergerak. Kaum pekerja telah menunjukkan ketidakpuasannya pada tahun 1902 dan khususnya di musim panas 1903 ketika beribu-ribu kaum pekerja di Barat Daya dan Selatan melakukan mogok politik. Selama sepanjang tahun 1904, hampir tidak ada demonstrasi massa dari kaum pekerja. Situasi ini memberi kesempatan kepada kaum liberal untuk mencemooh wakil-wakil dari kelompok revolusioner yang membangun taktik mereka berdasarkan harapan akan revolusi nasional. Untuk menjawab para skeptik tersebut dan untuk mendorong anggota partai sosial-demokrat yang aktif, Trotsky menulis artikel ini. Nilai utama dari artikel ini adalah diagnosa situasi politiknya yang jelas, yang membuat artikel ini signifikan secara historis. Meskipun tinggal di luar negeri, Trotsky merasakan denyut nadi rakyat jelata dengan sangat seksama, "energi revolusi yang terbelenggu" yang sedang mencari sebuah jalan keluar. Analisanya terhadap laju sebuah revolusi nasional; analisanya terhadap peran kaum pekerja, non-proletariat kota, kelompok berpendidikan, dan tentara; estimasinya atas pengaruh perang terhadap pikiran masyarakat awam; akhirnya, slogan-slogan yang dia kedepankan sebelum revolusi (baca Revolusi 1905), semua ini sesuai dengan apa yang terjadi sepanjang tahun 1905 yang penuh badai. Membaca artikel ”Kaum Proletar dan Revolusi”, mereka yang mempelajari kehidupan politik Rusia bisa merasakan seolah-olah esay ini ditulis setelah Revolusi 1905 karena esay ini sesuai dengan lajunya peristiwa. Namun, esay ini muncul sebelum 9 Januari 1905, yakni sebelum serangan hebat pertama dari kaum pekerja Petersburg. Keyakinan Trotsky atas inisiatif revolusioner kelas pekerja sangatlah besar.
Moissaye J. Olgin1918

Kaum pekerja bukan hanya harus mengadakan sebuah propaganda revolusioner. Kaum pekerja sendiri harus harus bergerak menuju sebuah revolusi.

Untuk bergerak menuju sebuah revolusi bukan serta merta berarti menetapkan sebuah tanggal untuk sebuah pemberontakan dan bersiap-siap menghadapi hari tersebut. Kita tidak akan pernah bisa menetapkan sebuah hari dan jam untuk sebuah revolusi. Rakyat tidak pernah membuat sebuah revolusi berdasarkan perintah.

Apa yang dapat dilakukan, mengingat krisis yang akan terjadi, adalah untuk mengambil posisi yang paling tepat, untuk mempersenjatai dan menginspirasi massa dengan slogan-slogan revolusioner, untuk memimpin semua pasukan cadangan ke medan perang, untuk membuat mereka belajar seni bertarung, untuk membuat mereka siap berperang, dan mengirim sebuah signal di semua barisan bila waktunya telah tiba.

Apakah ini hanya berarti serangkaian latihan, dan bukan sebuah pertempuran yang menentukan dengan musuh? Apakah ini hanyalah manuver-manuver, dan bukan sebuah revolusi?
Ya, ini hanyalah manuver-manuver. Akan tetapi, ada sebuah perbedaan antara manuver revolusioner dan manuver militer. Persiapan-persiapan kita bisa berubah, kapanpun dan dan di luar kehendak kita, menjadi sebuah pertempuran sesungguhnya yang akan menentukan perang revolusi. Bukan hanya bisa, tapi ini akan terjadi. Ini didukung oleh situasi politik sekarang yang akut yang menyimpan sebuah ledakan-ledakan revolusioner di dalamnya.

Kapan manuver-manuver ini akan berubah menjadi sebuah pertempuran yang sesungguhnya, ini tergantung pada jumlah dan kekompakan revolusioner dari massa, ini tergantung pada atmosfir simpati popular yang mengelilingi mereka dan sikap pasukan tentara yang digerakkan oleh pemerintah untuk melawan rakyat.

Tiga elemen kesuksesan itu harus menentukan kerja-kerja persiapan kita. Massa proletar revolusioner eksis. Kita harus bisa memanggil mereka turun ke jalan, di satu waktu tertentu, di seluruh negara; kita harus bisa menyatukan mereka dengan sebuah slogan umum.

Seluruh kelas dan kelompok massa dipenuhi dengan kebencian terhadap absolutisme, dan itu berarti mereka dipenuhi dengan simpati terhadap perjuangan pembebasan. Kita harus bisa memusatkan simpati ini pada kaum proletar sebagai satu kekuatan revolusioner yang dengan sendirinya bisa menjadi kaum pelopor rakyat di dalam perjuangan mereka untuk menyelamatkan masa depan Rusia. Menyangkut mood para tentara, ini tidaklah memberikan harapan yang besar bagi pemerintah. Banyak gejala-gejala yang mengkawatirkan dalam beberapa tahun belakangan ini; para tentara muram, mereka menggerutu, banyak kekecewaan di dalam tubuh angkatan bersenjata ini. Dengan segala daya upaya, kita harus membuat pasukan tentara tersebut memisahkan diri mereka dari absolutisme pada waktu yang menentukan di saat rakyat bangkit.

Pertama, mari kita analisa dua kondisi yang terakhir, yang menentukan jalan dan hasil dari kampanye ini.
Kita baru saja melewati periode ”pembaruan politik” yang dibuka dengan bunyi terompet dan berakhir dengan desisan cambuk[1], yakni era Svyatopolk-Mirski. Ini menyebabkan meningkatnya kebencian terhadap absolutisme di antara semua elemen-elemen masyarakat. Hari-hari selanjutnya akan menuai buah dari harapan-harapan rakyat yang menggelora dan janji-janji pemerintah yang tak terpenuhi. Belakangan ini, ketertarikan terhadap politik mulai mengambil bentuk yang lebih jelas; ketidakpuasan telah tumbuh lebih dalam dan dibangun di atas dasar teori yang lebih jelas. Pemikiran-pemikiran popular di antara rakyat, yang kemarin sama sekali primitif, sekarang dengan cepat memiliki analisa politik.

Semua manifestasi kekuasaan yang jahat dan sewenang-wenang dengan cepat diusut kembali ke penyebab utamanya. Slogan-slogan revolusoner tidak lagi menakutkan bagi rakyat; sebaliknya, mereka menggema beribu kali lipat, mereka berubah menjadi pepatah-pepatah. Kesadaran umum menyerap setiap kata penolakan dan kutukan yang diarahkan pada absolutisme layaknya sebuah sepon yang menyerap air. Tidak ada langkah dari pemerintah yang luput dari hukuman. Setiap kesalahannya tercatat. Usaha-usahanya diejek, ancaman-ancamannya menghasilkan kebencian. Aparatus media kaum liberal[2] yang besar mengedarkan beribu-ribu koran tiap harinya yang dipenuhi dengan fakta-fakta yang menggemparkan, merangsang, dan membakar emosi rakyat.

Emosi-emosi yang terkukung ini sedang mencari sebuah jalan keluar. Mereka ingin berubah menjadi aksi. Akan tetapi, hiruk pikuk press liberal, walaupun merangsang keresahan rakyat, cenderung mengarahkan arus keresahan ini ke sebuah jalur yang sempit; mereka menyebarkan ilusi tahayul mengenai ”opini publik” yang tak berdaya, ”opini publik” yang tak terorganisir, yang tidak mengarah ke sebuah aksi; mereka mengutuk metode emansipasi nasional yang revolusioner; mereka menyebarkan ilusi legalitas; mereka memusatkan semua perhatian dan semua harapan dari kelompok-kelompok yang resah di sekeliling kampanye Zemstvo, dan oleh karena itu secara sistematis mempersiapkan kegagalan besar bagi pergerakan. Ketidakpuasan yang akut ini, yang tidak menemukan jalan keluar, dan dipesimiskan oleh kegagalan yang tak terelakkan dari kampanye Zemstvo yang tidak memiliki tradisi perjuangan revolusioner di masa lalu dan tidak memiliki prospek yang cerah di masa depan, akan memanifestasikan dirinya dalam sebuah ledakan usaha-usaha terorisme yang nekat. Para intelektual radikal hanya akan menjadi pengamat yang tidak berdaya, pasif, walaupun simpatik. Para liberal akan tersedak oleh antusiasme yang lemah sembari memberikan bantuan yang meragukan.

Ini tidak boleh terjadi. Kita harus mengambil kepemimpinan di dalam keresahan popular ini. Kita harus mengalihkan perhatian dari banyak kelompok-kelompok sosial yang resah ini ke satu proyek besar yang dipimpin oleh kaum pekerja, yakni ke Revolusi Nasional.

Kaum pelopor Revolusi harus membangunkan seluruh elemen rakyat dari tidur mereka; mereka harus berada di mana saja; mereka harus memajukan permasalahan-permasalahan perjuangan politik dengan tegas; mereka harus membuka kedok demokrasi yang munafik; mereka harus membuat kaum demokrat dan kaum liberal Zemstvo saling melawan satu sama lain; mereka harus memajukan, memanggil, dan menuntut sebuah jawaban yang jelas atas pertanyaan, ”apa yang akan kamu lakukan?”; pantang mundur; memaksa kaum liberal legal untuk mengakui kelemahan mereka sendiri; memisahkan elemen-elemen demokratis dari kaum liberal legal dan membantu mereka menuju ke arah revolusi. Untuk melakukan ini, kita harus menarik simpati dari semua pihak oposisi demokrasi menuju kampanye revolusioner kaum proletar.

Dengan semua daya upaya kita, kita harus menarik perhatian dan meraih simpati dari kaum non-proletar yang miskin. Pada saat aksi kaum proletar yang terakhir, seperti dalam pemogokan umum 1903 di Selatan, tidak ada usaha untuk melakukan ini, dan ini merupakan titik paling lemah dari persiapan kerja kita. Menurut korespondensi press, desas-desus yang sangat aneh sering beredar di antara populasi kota. Penduduk kota mengira para pemogok kerja akan menyerang rumah mereka, para pemilik toko takut kalau tokonya akan dijarah oleh para pemogok, dan kaum Yahudi ketakutan akan kerusuhan rasial. Hal-hal ini harus dihindari. Sebuah pemogokan politik, sebagai satu pertarungan antara kaum pekerja kota dengan polisi dan bala tentara, akan menemui kegagalan bila populasi kota yang lainnya menentangnya atau bahkan tidak peduli.

Ketidakpedulian masyarakat terutama akan mempengaruhi moral kaum proletar sendiri, dan kemudian sikap para tentara. Di bawah kondisi seperti ini, sikap pemerintah akan menjadi lebih tegas. Para Jendral akan mengingatkan perwira-perwira mereka, dan perwira-perwira tersebut akan menyampaikan pesan Jendral Dragomirov[3] kepada para prajurit: “senapan diberikan untuk menembak dengan jitu, dan tidak seorangpun boleh memboroskan selongsong peluru dengan sia-sia”.

Sebuah pemogokan politik kaum proletar harus berubah menjadi sebuah demonstrasi politik massa, ini merupakan syarat pertama untuk kesuksesan.
Syarat penting yang kedua adalah mood para tentara. Keresahan di antara prajurit dan simpati untuk “para pemberontak” adalah sebuah kenyataan. Hanya sebagian dari simpati ini disebabkan oleh propaganda langsung kita di antara para tentara. Sebagian besar dari simpati ini disebabkan oleh bentrokan antara para tentara dengan massa yang berdemonstrasi. Hanya orang yang benar-benar bodoh atau bajingan tulen yang berani menembak rakyat. Mayoritas besar tentara benci bertindak sebagai algojo; ini diakui oleh semua reporter yang menggambarkan bentrokan-bentrokan antara tentara dengan rakyat yang tak bersenjata. Para tentara bawahan membidik tembakannya di atas kepala para demonstran. Ketika resimen Bessarabian menerima perintah untuk membubarkan pemogokan di Kiev, sang komandan mengatakan bahwa dia tidak dapat menjamin sikap prajuritnya. Perintah untuk membubarkan pemogokan ini kemudian diberikan ke resimen Cherson, tetapi tidak ada setengah kompi di seluruh resimen yang mematuhi perintah atasan-atasan mereka.

Kasus di Kiev ini bukanlah sebuah pengecualian. Kondisi di dalam angkatan bersenjata sekarang lebih mendukung untuk terjadinya revolusi dibandingkan pada tahun 1903. Kita telah melewati satu tahun peperangan. Sangat sulit untuk mengukur pengaruh satu tahun perang tersebut di pikiran para tentara. Akan tetapi pengaruh ini pastilah sangat besar. Perang tidak hanya menarik perhatian rakyat, perang juga membangunkan minat profesional para tentara. Kapal kita lambat, senjata-senjata kita jangkauannya pendek, prajurit kita tak berpendidikan, sersan-sersan kita tidak memiliki kompas maupun peta, prajurit kita tak bersepatu, lapar, dan kedinginan, palang merah kita mencuri, atasan-atasan kita mencuri; desas-desus dan informasi seperti ini bocor ke para prajurit dan dilahap dengan cepat. Setiap desas-desus, seperti asam kuat, melarutkan mental para tentara. Propaganda selama bertahun-tahun tidaklah bisa menyamai hasil dari satu hari peperangan. Mekanisme disiplin memang masih ada, akan tetapi keyakinan untuk menjalankan perintah dan kepercayaan bahwa kondisi sekarang ini dapat tetap berlangsung semakin berkurang. Semakin sedikit kepercayaan para prajurit atas absolutisme, semakin besar kepercayaan mereka terhadap musuh mereka.

Kita harus menggunakan situasi ini. Kita harus menjelaskan kepada para prajurit makna dari aksi kaum pekerja yang sedang dipersiapkan oleh Partai. Kita harus menggunakan slogan yang akan menyatukan para prajurit dengan rakyat revolusioner. Hentikan Peperangan! Kita harus menciptakan satu situasi dimana para perwira tidak dapat mempercayai prajurit mereka di saat genting. Ini akan mencerminkan sikap para perwira tersebut.

Selebihnya akan dilakukan di jalanan. Antusiasme rakyat yang revolusioner. akan menghancurkan sisa-sisa hipnosis-barak.
Akan tetapi, faktor utama tetaplah rakyat revolusioner. Memang benar bahwa selama peperangan unsur yang paling maju dari rakyat jelata, yakni kaum proletar yang sadar kelas, belumlah melangkah secara terbuka ke garis depan dengan ketegasan yang dibutuhkan di waktu yang kritis ini. Namun bila seseorang mengambil kesimpulan yang pesimis, ini hanya berarti bahwa ia tidak mempunyai dasar teori politik yang kuat dan ia sangat dangkal.

Perang ini telah meremukkan kehidupan rakyat dengan bobotnya yang besar. Monster yang mengerikan ini, yang bernapas darah dan api, menyelimuti kehidupan politik, menggelapkan semuanya, menancapkan taring besinya ke dalam tubuh rakyat, berulang kali melukai rakyat, menyebabkan luka yang mematikan, yang untuk sementara membuat rakyat bahkan tidak bisa menanyakan apa sebab dari luka tersebut. Perang, seperti setiap malapetaka yang besar, yang disertai dengan krisis, pengangguran, mobilisasi, kelaparan, dan kematian, mengejutkan rakyat, menyebabkan keputusasaan dan bukan protes. Akan tetapi ini hanyalah permulaan saja. Rakyat jelata, yakni strata sosial yang biasanya pasif, yang kemarin tidak memiliki hubungan dengan elemen-elemen revolusioner, digedor oleh kenyataan yang besar yang menghadapkan mereka dengan peristiwa yang paling sentral di Rusia sekarang ini, yakni peperangan. Mereka ketakutan, mereka tidak dapat mengejar napas mereka. Elemen-elemen revolusioner, yang sebelum peperangan tidak menggubris massa yang pasif, terpengaruh oleh atmosfir keputusasaan dan ketakutan yang besar. Atmosfir ini menyelimuti mereka, atmosfir ini menekan pikiran mereka. Suara protes tidak dapat terdengar di antara kesengsaraan ini. Kaum proletar revolusioner yang belum pulih dari luka yang mereka terima pada Juli 1903 tidak berdaya sama sekali untuk melawan ”panggilan primitif”.

Akan tetapi, tahun-tahun peperangan ini tidaklah lewat begitu saja tanpa menyebabkan sesuatu. Rakyat, yang kemarin primitif, hari ini dihadapkan dengan peristiwa-peristiwa yang besar. Mereka harus memahami peristiwa-peristiwa ini. Lamanya peperangan ini telah melahirkan sebuah keinginan untuk memahami apa yang terjadi, untuk mempertanyakan arti peperangan ini. Oleh karena itu, walaupun perang ini untuk sementara telah menghambat inisiatif revolusioner dari ribuan rakyat, perang ini telah membangkitkan pemikiran politik jutaan rakyat.

Peperangan ini tidaklah terlewati tanpa hasil, tak satu pun hari terlewat tanpa hasil. Di lapisan rakyat yang rendah, di kedalaman rakyat, sesuatu sedang terjadi, sebuah gerakan molekular yang tak terlihat tetapi tak terbendung, yang bergerak terus menerus, sebuah gerakan molekular yang menimbun kegeraman, kemarahan, dan enerji revolusioner. Atmosfir di jalanan sudah bukan lagi atmosfir keputusasaan. Ia telah berubah menjadi sebuah atmosfir yang penuh dengan kemarahan yang terkonsentrasikan, yang mencari arti dan jalan menuju aksi revolusioner. Setiap aksi dari kaum pelopor kelas pekerja sekarang akan menyeret bukan hanya pasukan cadangan revolusioner kita, tetapi juga ribuan dan ratusan ribu rekrut-rekrut yang revolusioner. Mobilisasi ini, tidak seperti mobilisasi pemerintah, akan dilaksanakan dengan simpati umum dan bantuan aktif dari mayoritas besar populasi.

Di hadapan simpati rakyat jelata, di hadapan bantuan aktif elemen-elemen demokrasi di dalam masyarakatt; menghadapi sebuah pemerintah yang dibenci secara umum, yang gagal dalam semua proyeknya besar atau kecil, sebuah pemerintahan yang dikalahkan di peperangan laut, kalah di medan peperangan, yang dibenci, yang patah semangatnya, yang tidak punya harapan lagi untuk masa depan, sebuah pemerintahan yang mencoba bertahan hidup dengan sia-sia, yang memohon kemurahan hati, memprovokasi dan lalu mundur, yang tergeletak tak berdaya, yang besar mulut tetapi ketakutan; menghadapi sebuah angkatan bersenjata yang moralnya telah hancur karena peperangan, pasukan bersenjata yang keberanian, enerji, antusiasme, dan heroismenya telah menabrak sebuah tembok yang tinggi dalam bentuk kekacauan administratif, sebuah angkatan bersenjata yang telah kehilangan keyakinannya akan kestabilan rejim yang ia layani, sebuah angkatan bersenjata yang tidak puas dan mengeluh, dan yang telah lebih dari sekali melepaskan dirinya dari cengkraman disiplin tentara pada tahun lalu dan yang sekarang mendengar raungan suara-suara revolusioner dengan tidak sabar – inilah situasi yang dihadapi oleh kaum proletar ketika mereka akan turun ke jalan. Tidak ada kondisi historis yang lebih baik untuk sebuah serangan akhir. Sejarah telah melakukan semua hal yang diperbolehkan oleh hukum fundamental sejarah. Sekarang kekuatan-kekuatan revolusioner yang sadar harus bertindak untuk menyelesaikannya.

Enerji revolusioner yang sangat besar telah terakumulasi. Enerji ini tidak boleh menguap tanpa hasil. Enerji ini tidak boleh dihamburkan di pertempuran-pertempuran yang terpecah-pecah dan tanpa kepaduan serta tanpa rencana yang pasti. Kita harus memusatkan usaha-usaha kita untuk mengkonsentrasikan kegeraman, kemarahan, protes-protes, kegusaran, dan kebencian rakyat; untuk memberikan emosi-emosi tersebut sebuah ekspresi yang tersatukan, sebuah gol yang tersatukan, untuk menyatukan dan untuk menguatkan semua elemen-elemen massa, untuk membuat mereka merasa dan memahami bahwa mereka tidak terisolasi. Kita harus menyatukan mereka dengan slogan yang sama, dengan tujuan yang sama. Bila pemahaman ini telah tercapai, maka setengah revolusi telah tercapai.

Kita harus menyerukan seluruh kekuatan revolusioner untuk beraksi secara bersamaan. Bagaimana caranya kita bisa melakukan ini?

Pertama-tama, kita harus ingat bahwa medan perang revolusioner yang utama akan tejadi di perkotaan. Tidak ada yang bisa menyangkal ini. Lalu, jelas kalau demonstrasi-demonstrasi di jalan-jalan dapat berubah menjadi sebuah revolusi popular bila mereka adalah sebuah manifestasi rakyat, yakni bila mereka merangkul terutama para buruh di pabrik-pabrik. Untuk membuat para buruh menghentikan mesin-mesin mereka dan berdiri; untuk membuat mereka keluar dari pabrik mereka dan turun ke jalan; untuk memimpin mereka ke pabrik-pabrik tetangga; untuk menyerukan pemogokan kerja di sana; untuk membuat massa yang baru turun ke jalan; untuk lalu pergi dari pabrik ke pabrik dan bertambah besar tanpa henti, menyapu barikade-barikade polisi, menyerap massa-massa yang baru yang mereka temui, memadati jalan-jalan, menduduki gedung-gedung yang cocok untuk pertemuan-pertemuan akbar, membarikade gedung-gedung tersebut, terus mengadakan pertemuan-pertemuan revolusioner dengan massa yang datang dan pergi, membawa pesan ke gerakan rakyat, membangkitkan semangat mereka, menjelaskan kepada mereka tujuan dan makna dari apa yang sedang terjadi; pada akhirnya untuk mengubah seluruh kota menjadi satu kamp revolusioner; secara umum ini adalah rencana aksi yang harus dilakukan.

Titik tolak dari rencana aksi ini haruslah berasal dari pabrik-pabrik. Ini berarti bahwa demonstrasi-demonstrasi jalanan yang serius, yang dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang menentukan, harus dimulai dengan pemogokan-pemogokan massa yang bersifat politis.

Lebih mudah untuk menentukan sebuah tanggal untuk sebuah pemogokan kerja daripada untuk sebuah demonstrasi rakyat, seperti halnya lebih mudah untuk menggerakan massa yang sudah siap untuk beraksi daripada mengorganisir massa yang baru.

Akan tetapi, sebuah pemogokan kerja yang politis, yang bukan mogok lokal tetapi mogok umum di seluruh Rusia, harus memiliki sebuah slogan politik yang umum. Slogan ini adalah: hentikan peperangan dan bentuk Majelis Konstituante Nasional.

Tuntutan ini harus menjadi tuntutan nasional, dan disinilah terletak tugas dari propaganda kita yang dilakukan sebelum mogok umum seluruh Rusia. Kita harus menggunakan semua kesempatan yang ada untuk membuat popular ide Majelis Konstituante Nasional di antara rakyat. Tanpa kehilangan satu momen pun, kita harus mengoperasikan semua metode dan kekuatan propaganda kita. Proklamasi-proklamasi dan pidato-pidato, lingkaran-lingkaran studi dan pertemuan-pertemuan massa harus menyerukan, menekankan, dan menjelaskan tuntutan membentuk sebuah Majelis Konstituante. Tidak boleh ada seorangpun di kota yang tidak mengetahui tuntutannya: sebuah Majelis Konstituante Nasional.

Para petani harus diserukan untuk bertemu pada hari pemogokan politik dan untuk mengambil resolusi-resolusi menuntut dibentuknya sebuah Majelis Konstituante. Petani-petani sub-urban harus dipanggil ke kota-kota untuk berpartisipasi di gerakan-gerakan massa di jalanan yang disatukan di bawah panji Majelis Konstituante. Semua asosiasi dan organisasi, badan-badan profesional dan intelektual, organ-organ mandiri dan organ-organ pres oposisi harus diberitahukan terlebih awal oleh kaum pekerja bahwa mereka sedang mempersiapkan sebuah pemogokan politik di seluruh Rusia, yang ditetapkan pada satu tanggal tertentu, untuk menuntut dibentuknya Majelis Konstituante. Kaum pekerja harus menuntut dari semua asosiasi dan organisasi bahwa, pada hari yang telah ditentukan untuk demonstrasi massa, mereka harus bergabung menuntut dibentuknya sebuah Majelis Konstituante Nasional. Kaum pekerja harus meminta pres oposisi untuk mempopulerkan slogan mereka dan di hari sebelum demonstrasi mencetak sebuah seruan kepada populasi untuk bergabung dengan demonstrasi proletariat di bawah panji tuntutan pembentukan Majelis Konstituante.

Kita harus melakukan propaganda yang paling intensif di dalam angkatan bersenjata supaya pada hari pemogokan setiap prajurit, yang dikirim untuk menertibkan “para pemberontak”, harus mengetahui bahwa ia sedang berhadapan dengan rakyat yang menuntuk dibentuknya Majelis Konstituante Nasional.

Catatan:
[1] “Desisan cambuk” yang mengakhiri era “hubungan baik” adalah sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh pemerintah pada 12 Desember 1904, yang menyatakan bahwa “semua hal yang mengganggu keamanan dan ketertiban, dan semua pertemuan yang memiliki karakter anti-pemerintah, harus dan akan dihentikan dengan semua cara legal oleh pihak otoritas.” Zemstvo dan badan-badan munisipal disarankan untuk tidak berbicara mengenai politik. Partai-partai Sosialis dan gerakan buruh secara umum ditindas di bawah pemerintahan Svyatopolk-Mirski dan juga Von Plehve.

[2] “Aparatus media kaum liberal yang besar” adalah satu-satunya cara untuk meraih telinga jutaan rakyat. Press kaum revolusioner “bawah tanah” hanya dapat diakses oleh sejumlah kecil pembaca. Di saat kekacauan politik, rakyat menjadi terbiasa membaca di antara kalimat-kalimat dari press legal, dan mengambil apa yang mereka butuhkan untuk membangkitkan kebenciannya terhadap penindasan. Yang dimaksud dengan press “legal” adalah press yang terbuka secara publik, yang mengikuti peraturan-peraturan legal dari absolutisme di dalam upaya mereka untuk mengutuk pemerintahan absolutis. Kata “legal” berbeda dengan kata “revolusioner” yang berarti aksi-aksi politik yang melanggar hukum.

[3] Dragomirov adalah pemimpin pasukan Militer Kiev dan terkenal dengan gaya bahasanya yang puitis.

Rabu, 22 April 2009

Dunia Ketiga Harus Bersatu Atau Mati

Fidel Castro

Pengelompokan negeri-negeri dunia ketiga di Perserikatan Bangsa-Bangsa adalah Kelompok-77 (G77), yang dibentuk tahun 1964 dan kini berjumlah 133 negeri. Pada pertengahan April tahun 2000, bangsa-bangsa yang mewakili mayoritas rakyat sedunia ini bertemu di Havana, Kuba, dan mengeluarkan proklamasi yang sangat kritis terhadap kebijakan Bank Dunia (WB) dan Dana Moneter Internasional (IMF). Pidato berikut oleh Presiden Kuba saat itu Fidel Castro disambut dengan tepukan tangan yang menggeluruh pada saat KTT G77, tapi pers di AS tidak meliput pidato Castro maupun kritik lainnya yang berasal dari G77.

Belum pernah umat manusia memiliki potensi ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian hebatnya dengan kapasitas yang luar biasa untuk menghasilkan kekayaan dan kesejahteraan, namun belum pernah pula terdapat kesenjangan dan ketaksetaraan yang begitu mendalam di dunia.

Keajaiban teknologi yang telah menyusutkan planet ini dalam hal komunikasi dan jarak, kini hadir bersamaan dengan jurang yang semakin lebar memisahkan kekayaan dan kemiskinan, pembangunan dan ketertinggalan.

Globalisasi adalah realitas obyektif yang menggarisbawahi kenyataan bahwa kita semua adalah penumpang dalam kapal yang sama - planet ini di mana kita semua bertempat tinggal. Tapi penumpang kapal ini melakukan perjalanan dalam kondisi yang sangat berbeda.

Sejumlah kecil minoritas melakukan perjalanan dalam kabin mewah yang dilengkapi dengan internet, telepon seluler dan akses terhadap jaringan komunikasi global. Mereka menikmati makanan yang bergizi, berlimpah dan seimbang berikut persediaan air bersih. Mereka memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan yang canggih dan seni budaya.

Sejumlah besar mayoritas yang menderita melakukan perjalanan dalam keadaan yang menyerupai perdagangan budak yang menakutkan dari Afrika ke Amerika dalam masa kolonial kami yang lalu. Jadi, 85 persen penumpang kapal ini disesakan ke dalam lambung kapal yang kotor, menderita kelaparan, penyakit, dan tak mendapat pertolongan.

Tentunya, kapal ini mengangkut terlalu banyak ketidak-adilan sehingga tidak akan terus mengapung, mengejar rute yang begitu tak rasional dan tak masuk akal sehingga tidak akan selamat sampai di pelabuhan. Kapal ini tampak ditakdirkan untuk karam menabrak bongkah es. Bila itu terjadi, kita semua akan tenggelam di dalamnya.

Para kepala negara dan pemerintahan yang bertemu di sini, yang mewakili mayoritas besar manusia yang mengalami penderitaan, tidak saja berhak tapi juga berkewajiban mengambil kepemimpinan dan mengoreksi arah perjalanan yang menuju bencana. Adalah tugas kita untuk mengambil tempat kita yang selayaknya sebagai pemimpin kapal dan menjamin bahwa semua penumpang dapat melakukan perjalanan dalam kondisi solidaritas, setara dan adil.

Dogma Pasar Bebas
Selama dua dekade, Negeri Dunia Ketiga telah berulangkali mendengarkan diskursus tunggal yang simplistik, sementara hanya terdapat satu kebijakan tunggal. Kita telah diberitahu bahwa pasar yang terderegulasi, privatisasi maksimum dan penarikan-diri negara dari aktivitas ekonomi merupakan prinsip-prinsip terampuh yang kondusif terhadap pembangunan ekonomi dan sosial.

Dalam dua dekade terakhir, segaris dengan ini, negeri-negeri maju, terutama Amerika Serikat, perusahaan transnasional besar yang diuntungkan oleh kebijakan di atas dan Dana Moneter Internasional (IMF) telah merancang tatanan ekonomi dunia yang paling merugikan kemajuan negeri-negeri kita dan paling tidak berkesinambungan dalam melindungi masyarakat dan lingkungan hidup.

Globalisasi telah dicengkram erat oleh pola-pola neoliberalisme; maka, bukanlah pembangunan yang menjadi global melainkan kemiskinan; bukanlah saling menghormati kedaulatan nasional negara-negara kita tapi pelanggaran sikap saling menghormati tersebut; bukannya solidaritas antara rakyat tapi sauve-qui-peut [masing-masing orang memikirkan dirinya sendiri] dalam kompetisi tak adil yang berlangsung di pasar.

Dua dekade dari apa yang disebut dengan penyesuaian struktural neoliberal telah memberikan kita kegagalan ekonomi dan bencana sosial. Adalah tugas para politikus yang bertanggung-jawab untuk menghadapi situasi yang menyulitkan ini dengan mengambil keputusan yang tak dapat dihindarkan dan kondusif untuk menyelamatkan Dunia Ketiga dari gang buntu.

Kegagalan ekonomi sudah terbukti. Di bawah kebijakan neoliberal, ekonomi dunia mengalami pertumbuhan global antara 1975 dan 1998 yang besarnya tidak mencapai setengah tingkat pertumbuhan yang diraih antara tahun 1945 dan 1975 dengan kebijakan regulasi pasar Keynesian dan partisipasi aktif negara dalam ekonomi.

Di Amerika Latin, di mana neoliberalisme diterapkan dengan ketat menurut doktrinnya, pertumbuhan ekonomi dalam tahap neoliberal lebih rendah daripada yang dicapai dalam kebijakan pembangunan negara sebelumnya. Setelah Perang Dunia II, Amerika Latin tidak memiliki utang tapi sekarang kita berutang sebesar hampir $1 trilyun. Inilah jumlah utang per kapita terbesar di dunia. Kesenjangan pendapatan antara miskin dan kaya di wilayah ini adalah yang terbesar di dunia. Terdapat lebih banyak rakyat miskin, menganggur, dan lapar di Amerika Latin pada saat ini dibandingkan pada saat mana pun dalam sejarahnya.

Di bawah neoliberalisme, ekonomi dunia tidaklah berkembang lebih cepat dalam hal-hal yang riil; justru terjadi lebih banyak ketakstabilan, spekulasi, utang luar negeri dan pertukaran yang tidak adil. Begitu juga, terdapat kecenderungan lebih besar bagi lebih sering terjadinya krisis finansial, sementara kemiskinan, ketaksamaan dan jurang antara negeri Utara yang kaya dan negeri Selatan yang jadi korban penjarahan terus melebar.

Krisis, ketakstabilan, gejolak dan ketakpastian merupakan kata-kata yang paling umum digunakan dalam dua tahun terakhir untuk menggambarkan tatanan ekonomi dunia.
Deregulasi yang menyertai neoliberalisme dan liberalisasi rekening kapital memberikan dampak negatif yang mendalam terhadap ekonomi dunia di mana berkembang subur spekulasi mata-uang asing dan pasar derivativ; sementara transaksi harian yang kebanyakan spekulatif, besarnya tak kurang dari 3 trilyun dolar AS.

Negeri-negeri kita dituntut untuk lebih transparan dalam informasi dan lebih efektif dalam pengawasan bank tapi institusi finansial seperti hedge funds tidak perlu membuka informasi tentang aktivitasnya, dan sepenuhnya tak teregulasi dan menjalankan operasi yang melebihi semua cadangan devisa yang dimiliki oleh negeri-negeri Selatan.

Dalam atmosfir spekulasi yang tak terkendali, pergerakan kapital jangka-pendek membuat negeri-negeri Selatan rentan terhadap ancaman di masa depan. Dunia Ketiga dipaksa untuk menahan sumber daya finansialnya dan semakin banyak berhutang untuk mempertahankan cadangan devisa mata uang asing dengan harapan dapat digunakan untuk bertahan dari serangan spekulator. Sebesar 20% pemasukan kapital dalam beberapa tahun belakangan ditahan sebagai cadangan devisa tapi mereka tidak cukup untuk mempertahankan diri dari serangan-serangan tersebut sebagaimana dibuktikan dalam krisis finansial baru-baru ini di Asia Tenggara.

Saat ini, cadangan devisa Bank-bank Sentral di dunia sebesar 727 milyar dolar AS berada di Amerika Serikat. Ini menciptakan paradoks bahwa dengan cadangan devisanya, negeri-negeri miskin memberikan pendanaan murah berjangka-panjang kepada negeri terkaya dan terkuat di dunia, padahal cadangan devisa tersebut dapat diinvestasikan dalam pembangunan ekonomi dan sosial.

Tuntut Pembubaran IMF
Bila Kuba berhasil menjalankan pendidikan, layanan kesehatan, budaya, ilmu pengetahuan, olah-raga dan program-program lainnya dengan sukses, yang mana hal ini tidak lagi dipertanyakan oleh dunia, meskipun selama empat dekade diblokade ekonomi, dan melakukan revaluasi mata uangnya terhadap dolar AS sebanyak tujuh kali dalam lima tahun terakhir, itu berkat posisi istimewanya sebagai non-anggota Dana Moneter Internasional (IMF).

Suatu sistem finansial yang dengan paksa menahan mobilisasi sumber daya yang demikian besar, yang amat dibutuhkan oleh negeri-negeri itu untuk melindungi diri dari ketakstabilan yang diakibatkan oleh sistem tersebut, yang menyebabkan rakyat miskin mendanai kaum kaya - itu harus dihapuskan.

Dana Moneter Internasional adalah organisasi yang melambangkan sistem moneter saat ini dan Amerika Serikat menikmati hak veto terhadap segala keputusannya. Terkait krisis finansial terakhir, IMF menunjukkan ketidakmampuan dalam membayangkan apa yang akan terjadi dan telah menangani situasi dengan ceroboh. Ia menerapkan klausa persyaratan yang melumpuhkan kebijakan pembangunan sosial pemerintah sehingga menciptakan bencana domestik yang serius dan menghalangi akses terhadap sumber daya yang penting justru ketika mereka sedang paling dibutuhkan.

Sudah saatnya negeri-negeri Dunia Ketiga menuntut keras pembubaran institusi yang tidak memberikan stabilitas kepada ekonomi dunia maupun berfungsi memberikan dana pencegahan kepada peminjamnya untuk menghindari krisis likuiditas; sebaliknya, ia justru melindungi dan menolong para pemberi pinjaman.

Di manakah letak kerasionalan dan etika dari suatu tatanan moneter internasional yang memungkinkan segelintir teknokrat, yang posisinya bergantung pada dukungan Amerika, untuk merancang di Washington program-program ekonomi yang identik untuk diterapkan ke dalam beragam negeri untuk menghadapi problem-problem spesifik Dunia Ketiga?

Siapa yang bertanggung-jawab ketika program-program penyesuaian menghadirkan kekacauan sosial, sehingga melumpuhkan dan mendestabilisasi bangsa-bangsa yang memiliki sumber daya manusia dan alam yang besar, seperti kasus Indonesia dan Ekuador?

Adalah suatu keharusan yang krusial bagi negeri-negeri Dunia Ketiga untuk mengupayakan pembubaran institusi sinister tersebut, dan filosofi yang dipertahankannya, untuk digantikan dengan badan regulasi finansial internasional yang akan beroperasi atas landasan demokratik di mana tak satu pun memilik kekuasaan veto; sebuah institusi yang tak hanya mempertahankan para kreditor kaya dan menerapkan syarat-syarat yang mengintervensi, tapi akan memungkinkan penerapan regulasi pasar finansial untuk menghentikan spekulasi liar.

Cara yang mungkin untuk ini adalah menerapkan - bukannya pajak sebesar 0,1 persen terhadap transaksi finansial spekulatif sebagaimana diusulkan dengan brilian oleh Mr Tobin - tapi pajak sebesar minimum 1 persen yang akan memungkinkan pembentukan dana yang besar, yang melebihi $1 trilyun pertahunnya untuk menggalakkan pembangunan yang berkelanjutan dan komprehensif di Dunia Ketiga.

Utang Dunia Ketiga Sudah Dilunasi
Utang-utang luar negeri dari negeri kurang berkembang telah melebihi $2,5 trilyun dan dalam tahun 1990an itu telah bertambah dengan lebih berbahaya dibandingkan tahun 1970an. Sebagian besar dari utang baru tersebut dapat dengan mudah berpindah tangan dalam pasar sekunder; ia saat ini lebih tersebar luas dan lebih susah untuk dijadwal ulang.

Sebagaimana telah kami katakan sejak 1985: Utang tersebut sudah dilunasi, bila kita memperhatikan cara pembayarannya, peningkatan yang cepat dan semena-mena terhadap tingkat suku bunganya dalam dolar AS pada tahun 1980an dan penurunan harga komoditas dasar - suatu sumber pendapatan fundamental bagi negeri-negeri berkembang. Utang tersebut terus memakan dirinya sendiri dalam suatu lingkaran setan di mana uang dipinjam untuk membayar bunga dari utang lama.

Saat ini, terlihat lebih jelas bahwa utang bukanlah persoalan ekonomi tapi politik, oleh karena itu, ia membutuhkan solusi politik. Tidaklah mungkin menutup mata dari kenyataan bahwa solusi terhadap problem ini harus berasal dari mereka yang memiliki sumber daya dan kekuasaan, yakni, negeri-negeri kaya.

Inisiatif Pengurangan Utang Negeri-negeri Miskin (Heavily Indebted Poor Countries Debt Reduction Initiative - HIPC) menunjukkan nama yang besar tapi hasil yang kecil. Ia hanya dapat digambarkan sebagai upaya konyol untuk menghapus 8,3 persen total utang negeri-negeri Selatan. Hampir empat tahun setelah penerapannya hanya empat di antara tiga-puluh-tiga negeri termiskin telah menyusuri proses yang rumit hanya untuk menghapus angka yang tak seberapa sebesar $2,7 milyar, yakni sepertiga dari jumlah uang yang dibelanjakan Amerika Serikat untuk kosmetik tiap tahunnya.

Saat ini, utang luar negeri adalah rintangan terbesar bagi pembangunan dan bom waktu yang siap meledakkan fondasi ekonomi dunia saat krisis ekonomi.

Sumber daya yang dibutuhkan sebagai solusi yang mengarah pada akar permasalahan ini tidaklah besar bila dibandingkan dengan kekayaan dan pembelanjaan negeri-negeri kreditor. Tiap tahun $800 milyar digunakan untuk membiayai persenjataan dan pasukan, bahkan setelah usai Perang Dingin, sementara tak kurang dari $400 milyar dihabiskan untuk narkotika, dan milyaran lainnya untuk publisitas komersial yang menciptakan alienasi yang sebanding dengan narkotika.

Sebagaimana telah kami katakan sebelumnya, pada kenyataannya, utang luar negeri Dunia Ketiga adalah tak dapat dibayarkan dan tak dapat dipungut.

Perdagangan Dunia
Di tangan negeri-negeri kaya, perdagangan dunia adalah alat dominasi. Di bawah globalisasi neoliberal, perdagangan telah memelihara ketimpangan dan menjadi ruang penyelesaian sengketa antara negeri-negeri maju dalam upaya mereka mengontrol pasar pada saat ini maupun masa depan.

Diskursus neoliberal menyarankan liberalisasi komersial sebagai formula terbaik dan satu-satunya bagi efisiensi dan perkembangan. Sementara neoliberalisme terus menerus mengulangi diskursusnya tentang peluang yang diciptakan oleh pembukaan perdagangan, partisipasi negeri-negeri miskin dalam ekspor dunia menurun pada tahun 1998 dibandingkan tahun 1953. Brasil dengan area 3,2 juta mil persegi, penduduk sebesar 168 juta dan nilai ekspor sebesar $51,1 milyar pada 1998, ekspornya lebih sedikit dibandingkan Belanda yang berarea 12.978 mil persegi, dengan populasi 15,7 juta dan nilai ekspor sebesar $198,7 pada tahun yang sama.
Liberalisasi perdagangan pada intinya terdiri atas penyingkiran instrumen proteksi negeri-negeri Selatan secara sepihak (unilateral). Sementara, negeri-negeri berkembang tidak bisa melakukan hal yang serupa untuk membolehkan ekspor-ekspor Dunia Ketiga memasuki pasar mereka.

Bangsa-bangsa yang kaya telah membangun liberalisasi dalam sektor-sektor strategis yang diasosiasikan dengan teknologi maju - jasa, teknologi informasi, bioteknologi, dan telekomunikasi - di mana mereka menikmati keuntungan besar yang semakin meningkat dengan deregulasi pasar.

Di sisi lain, pertanian dan tekstil, dua sektor yang secara khusus signifikan bagi negeri-negeri kita, tidak mampu menyingkirkan rintangan yang telah disetujui dalam Putaran Uruguay karena ini bukanlah kepentingan negeri-negeri maju.

Dalam OECD [Organisasi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi], kelompok negeri-negeri terkaya, tarif rata-rata yang diterapkan pada ekspor manufaktur dari negeri-negeri kurang berkembang adalah empat kali lebih tinggi daripada yang diterapkan pada negeri anggota kelompok tersebut. Tembok penghalang antara tarif dan non-tarif sesungguhnya telah ditegakkan untuk menyingkirkan produk-produk negeri Selatan.

Komoditas dasar tetaplah rantai terlemah perdagangan dunia. Bagi 67 negeri Selatan, komoditas semacam itu berjumlah setidaknya lima puluh persen pendapatan ekspornya. Gelombang neoliberal telah menyapu skema pertahanan yang termuat dalam panduan (terms of reference) komoditas dasar. Diktum supremasi pasar tak dapat mentolerasi distorsi apa pun, dengan demikian Kesepakatan Komoditas Dasar (Basic Commodities Agreements) dan formula lainnya yang membahas ketimpangan pertukaran (unequal exchange) ditinggalkan begitu saja. Atas alasan inilah maka kini daya beli komoditas seperti gula, kokoa, kopi dan lainnya hanya dua puluh persen dari angka sebelumnya pada 1960; akibatnya, pendapatan penjualan bahkan tidak menutupi biaya produksi.

Perlakuan khusus dan berbeda bagi negeri-negeri miskin telah dipandang sebagai, bukannya tindakan adil dan kebutuhan yang tak dapat diabaikan, melainkan tindakan kemurahan hati yang hanya sementara. Sesungguhnya, perlakuan berbeda bagi negeri-negeri miskin bukan saja merupakan pengakuan terhadap perbedaan besar dalam perkembangan tiap negeri, sehingga mencegah digunakannya penggaris yang sama bagi negeri kaya dan miskin, tapi juga menyadari masa lalu kolonial yang menuntut kompensasi.

Signifikansi Perlawanan di Seattle
Kegagalan pertemuan WTO di Seattle menunjukkan bahwa kebijakan neoliberal menciptakan oposisi yang semakin intensif di antara semakin banyak rakyat, baik di negeri Selatan dan Utara. Amerika Serikat mempresentasikan Putaran Negosiasi Perdagangan yang seharusnya dimulai di Seattle sebagai langkah liberalisasi perdagangan yang lebih maju, padahal negeri itu masih memberlakukan Akta Perdagangan Asing-nya sendiri yang agresif dan diskriminatif. Akta tersebut menyertakan peraturan seperti "Super 301", sebuah pertunjukkan diskriminasi dan ancaman yang sesungguhnya dalam menerapkan sangsi bagi negeri-negeri lainnya atas alasan yang berkisar dari asumsi bahwa suatu negeri menerapkan rintangan untuk menolak produk-produk Amerika, hingga penilaian yang sewenang-wenang dan sering kali sinis oleh pemerintah AS terkait situasi hak asasi manusia di negeri-negeri lainnya.

Di Seattle, terjadi perlawanan terhadap neoliberalisme. Preseden terkininya adalah penolakan terhadap penerapan Multilateral Agreement on Investments (MAI). Ini menunjukkan bahwa fundamentalisme pasar yang agresif, yang telah mengakibatkan kerusakan besar terhadap negeri-negeri kami, menghadapi penolakan sedunia yang keras dan sudah sepantasnya.
Jurang Teknologi

Dalam sebuah ekonomi global di mana pengetahuan adalah kunci bagi pembangunan, jurang teknologi antara Utara dan Selatan cenderung melebar dengan meningkatnya privatisasi penelitian ilmiah dan hasil-hasilnya.

Negeri-negeri maju di mana berdiam lima belas persen penduduk dunia, pada saat ini mengonsentrasikan delapanpuluh-delapan persen pengguna Internet. Terdapat lebih banyak komputer di Amerika Serikat dibandingkan dengan gabungan seluruh jumlah komputer di negeri lainnya di dunia. Negeri-negeri kaya mengontrol sembilanpuluh-tujuh persen hak paten secara global dan menerima lebih dari sembilan-puluh persen hak lisensi internasional, sementara bagi banyak negeri-negeri Selatan penerapan hak milik intelektual tidaklah eksis.

Dalam riset swasta, elemen lukratif (keuntungan besar) mendahului pertimbangan kebutuhan; hak milik intelektual menjadikan pengetahuan berada di luar jangkauan negeri-negeri kurang berkembang, dan legislasi tentang hak paten tidak mengakui transfer pengetahuan atau pun sistem kepemilikan tradisional yang begitu penting di Selatan. Penelitian oleh swasta berfokus pada kebutuhan konsumen yang kaya.

Vaksin telah menjadi teknologi yang paling efisien untuk mempertahankan pembelanjaan kesehatan yang rendah karena dapat mencegah penyakit dengan hanya menggunakan satu dosis. Walau begitu, karena itu memberikan profit yang rendah, vaksin dikesampingkan untuk mengutamakan pengobatan yang membutuhkan dosis berulang kali dan memberikan keuntungan finansial yang lebih tinggi.

Pengobatan baru, bibit terbaik, dan, pada umumnya, teknologi terbaik telah menjadi komoditas yang harganya hanya dapat dijangkau oleh negeri-negeri kaya.

Akibat sosial yang suram dari perlombaan neoliberal menuju bencana ini sudah ada di depan mata. Dalam seratus negeri, pendapat perkapita lebih rendah dibandingkan lima belas tahun lalu. Pada saat ini, 1,6 milyar orang bernasib lebih buruk dibandingkan pada awal 1980an.
Lebih dari 820 juta orang kekurangan gizi dan 790 juta di antaranya hidup di Dunia Ketiga. Diperkirakan 507 milyar orang yang hidup di Selatan saat ini tidak akan menyaksikan ulang-tahunnya yang ke-40.

Dalam negeri-negeri Dunia Ketiga yang terwakili di sini, dua dari lima anak menderita hambatan pertumbuhan dan satu dari tiga menderita kekurangan berat badan; 30.000 anak yang dapat diselamatkan, tiap harinya menderita sekarat; 2 juta anak perempuan terpaksa menjalani prostitusi; 130 juta anak tidak memiliki akses terhadap pendidikan dasar dan 250 juta anak di bawah 15 tahun terpaksa bekerja. Tatanan ekonomi dunia berfungsi baik bagi dua puluh persen penduduknya tapi mengabaikan, memojokkan dan memperburuk delapan puluh persen sisanya.
Kita tak dapat begitu saja memasuki abad baru dalam barisan akhir yang terbelakang, miskin, dan tereksploitasi; korban rasisme dan xenofobia dihalangi dari akses pengetahuan, dan menderita alienasi budaya kita akibat pesan-pesan asing berorientasi-konsumerisme yang diglobalisasikan oleh media.

Bagi Kelompok 77, ini bukanlah saat untuk mengemis dari negeri-negeri maju atau untuk patuh, mengalah, atau saling menghancurkan. Inilah saatnya untuk mengembalikan semangat berlawan kita, kesatuan dan kohesi kita dalam mempertahankan tuntutan kita.

Lima puluh tahun lalu kita diberikan janji bahwa suatu hari nanti tidak akan ada lagi jurang antara negeri-negeri maju dan kurang-berkembang. Kita dijanjikan roti dan keadilan; tapi hari ini kita memiliki semakin sedikit roti dan semakin banyak ketidakadilan.

Dunia dapat diglobalisasi di bawah kekuasaan neoliberalisme, tapi tidaklah mungkin menguasai milyaran lebih orang yang lapar akan roti dan haus akan keadilan. Gambaran ibu-ibu dan anak-anak di bawah derita kekeringan dan bencana lainnya di seluruh wilayah Afrika mengingatkan kita akan kamp konsentrasi di Jerman Nazi; mereka mengembalikan memori tentang tumpukan mayat dan orang sekarat, perempuan, dan anak-anak.

Perlu digelar semacam Nuremberg untuk mengadili tatanan ekonomi yang dipaksakan ke kita: sebuah sistem yang dengan menggunakan kelaparan dan penyakit yang tersembuhkan telah membunuh lelaki, perempuan, dan anak-anak tiap tiga tahun dalam jumlah yang melebihi korban jiwa Perang Dunia II yang berlangsung enam tahun.

Di Kuba kami biasa berkata: "Merdekalah Tanah Air atau Mati!" Pada KTT Dunia Ketiga ini kita akan harus berkata: "Bersatulah dan Bangun Kerjasama Erat, atau kita mati!"
 

© 2007 Komunitas Stempel Merah: 2009 | Design by Template Unik